Syukur yang Banyak

Alhamdulillah, di usia ini akhirnya saya sampai pada titik di mana Allah memperkenankan saya belajar tentang diri manusia secara utuh: tubuh, pikiran, perasaan, dan ruh (kesadaran).
 
Dulu sekali, puluhan tahun lalu, sambil menangis saya pernah berdoa pada Allah agar Ia berkenan 'membuka hijab-Nya' untuk saya.
 
Saat itu saya sedang ada di puncak kebingungan dan rasa putus asa. Saya memutuskan keluar dari jurusan Hubungan Internasional setelah kuliah hampir 1,5 tahun karena merasa tidak menemukan tempat di sana. 
 
Di tengah kekalutan dan rasa gelisah karena harus kembali mengulang pelajaran SMA dan menghadapi kenyataan bahwa ini adalah tahun terakhir kesempatan saya mengulang tes UMPTN, saya mendekatkan diri pada-Nya.
 
Saya minta agar Allah memberi tahu saya jawaban mengapa hati saya merasa tidak betah, goncang, dan ingin pergi dari sana. Kemana saya seharusnya pergi? Ke tempat yang seperti apa dan untuk bertemu siapa?
 
Saya tidak mendapatkan jawabannya saat itu, yang saya dapatkan adalah kesempatan untuk kuliah di jurusan Teknik Fisika, di tahun terakhir saya bisa ikut ujian masuk perguruan tinggi.
 
Fast Forward ke masa kini, saya baru kembali memahami, sedikit demi sedikit, makna 'hijab' tersebut dan hubungannya dengan perjalanan hidup saya.
 
Saya belajar kini bahwa organisme yang bernama manusia, sejatinya, adalah maha karya atau master piece Tuhan yang luar biasa. Bahwa semakin seseorang memahami dirinya dengan seluruh lapisannya (biologis, pikiran, perasaan, dan kesadaran), semakin ia akan mengenal penciptanya.
 
Seperti istilah 'As Above So Below' atau manusia sebagai jagat kecil (mikrokosmos) sedangkan semesta raya adalah jagat besar (makrokosmos), hubungan antara keduanya saling mencerminkan satu sama lain.
Salah satunya adalah keberadaan dan perilaku atom yang menjadi bagian terkecil dari sel manusia, yang ternyata adalah juga bagian terkecil dari seluruh penyangga semesta.
 
Lalu tiba kemudian bagian di mana saya belajar untuk menghubungkan titik-titik itu: biologi (sistem saraf & tubuh fisik) - fisika (atom) - psikologi (ko-regulasi) - healing - tawakkal - keberadaan Tuhan.
 
Saya mulai melihat kembali dengan lebih teliti dan welas asih masa lalu saya. Ternyata, hidup yang saya jalani 40 tahun lebih ini adalah sebuah buku yang mengasyikkan. Tidak selalu menyenangkan, memang, tapi penuh dengan misteri, tanda tanya, hikmah, dan pelajaran.
 
Begitu pun dengan kehidupan orang-orang yang datang pada saya setelahnya; setiap cerita, air mata, emosi, bahkan postur tubuh mereka mengajarkan saya banyak hal.
 
Saya belum paham sepenuhnya tentang makna penciptaan manusia di dunia. Namun, diberi kesempatan untuk bisa sedikit saja 'mengintip' ilmu-Nya sudah merupakan anurah yang besar.
 
Dan hidup akan terus berjalan. Setiap hari adalah momen untuk saya menambah pengetahuan dan makna lagi.
 
Doa saya, hingga akhir hayat, saya diberi kesempatan untuk bisa terus berbagi agar setiap orang bisa merasakan cahaya yang sama atau bahkan jauh lebih terang. Aamiin... 
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar