Tampilkan postingan dengan label Bagus Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bagus Family. Tampilkan semua postingan

Di Mataku, Aku Cantik

Gadis Cantik

Sejak kecil hingga dewasa, Mama sangat jarang memuji saya cantik. Sekalipun saya anak perempuan pertama dari tiga orang anak perempuannya, saya hampir tidak pernah mendengar Mama memuji fisik saya sekalipun. Saya lahir dengan kulit cenderung gelap dan wajah bulat, berbeda dengan Mama dan kedua adik perempuan saya yang berkulit terang dan salah satunya berwajah tirus. Wajah saya lebih mirip dengan Oma, ibu dari Papa, yang juga berwajah bulat dan berkulit kuning langsat. Tubuh saya tidak pendek tapi juga tidak tinggi, dan dengan kombinasi wajah yang bulat membuat saya lebih terlihat 'chubby' daripada langsing.

Saya ingat ketika remaja seringkali merasa kesal karena Mama berulang kali menyuruh saya memakai bedak, terutama ketika kami hendak pergi ke acara pernikahan atau pertemuan keluarga. Alasan Mama adalah agar saya terlihat lebih 'putih', ya, putih. Wajar saya merasa kesal; kulit saya kecoklatan sawo matang namun harus terlihat putih. Alhasil saya sering marah dan mengamuk karena merasa dibedakan. Saat itu, seperti biasa Mama hanya diam dan tidak bereaksi atas kekesalan saya. Hingga akhirnya saya mengalah, membubuhi muka dengan bedak sambil memendam rasa sedih.

Ketika pertemuan dengan keluarga besar, saya sering jadi bahan bercandaan anggota keluarga lainnya. Mereka membanding-bandingkan fisik saya yang hampir 180 derajat berbeda dengan Mama dan menakut-nakuti saya. Mereka bilang Mama dan Papa tidak sayang pada saya karena saya 'beda'. Satu-satunya yang berkesan dan selalu teringat hingga kini adalah ketika Papa membela saya dan berkata ,"Biarin ya, Teh, biar item juga tetap anak Papa." Itu kalimat yang Papa ucapkan ketika saya masih SD dan diolok-olok keluarga yang lain. Kalimat itu satu-satunya yang membuat saya merasa terlindungi dan punya sandaran di rumah.

Perasaan Saya Sebagai Anak


Seorang anak butuh mendengar pujian atau apreasiasi dari orangtuanya agar tercipta hubungan yang harmonis. Pujian, apresiasi, support, dukungan atau apapun namanya akan membuat anak merasa dekat dengan orangtua, apalagi bila disampaikan dengan ungkapan dan gestur yang tulus. Anak akan merasa punya tempat berpijak dan kembali, yaitu rumah dan keluarganya. Ia juga tidak haus dukungan dan validasi dari orang lain, karena ia telah memiliki tim yang akan mendukungnya di dalam rumahnya.
 
Sebagai anak perempuan, saya pun butuh mendengar pujian atau apreasiasi dari orangtua, termasuk dalam hal penampilan fisik. Saya butuh seorang ibu yang menatap kedua mata saya dan mengatakan bahwa saya cantik dan 'cukup' baginya. Sekalipun tidak berkulit putih seperti dirinya, tidak langsing, dan tidak tinggi semampai, tetap ada keunikan dan keistimewaan yang bisa ia temukan dalam diri saya. Hal itu saya butuhkan namun tidak pernah saya dapatkan sejak kecil hingga dewasa. Hingga tanpa sadar, keyakinan bahwa saya tidak cantik, tidak menarik, dan tidak berharga tumbuh dalam diri saya.

Rasa dahaga akan pujian membuat saya melakukan banyak hal konyol saat remaja. Saya sering bersikap ramah dan memberi perhatian pada teman lawan jenis hingga mereka simpati, hanya untuk saya tinggalkan begitu saja. Sejak di bangku sekolah hingga kuliah saya melakukan tersebut beberapa kali, semuanya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Saya berlindung di balik sikap ramah, padahal ketika saya sadari kini keramahan saya hanyalah agar saya dianggap 'istimewa' oleh lawan jenis. Jauh di dalam hati saya, saya tidak pernah benar-benar suka pada seseorang. Saya hanya ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa saya cantik dan menarik, walaupun tidak sesuai standar kecantikan Mama. 

Di Mataku Aku Cantik

Kini, setelah sedikit demi sedikit belajar mengenai psikologi dan jiwa manusia, saya





Share:

Pengumuman SNBT 2024

Pengumuman SNBT
,

Sedikit cerita sore tadi jam 15.00. 

Aini buka akun SNBT-nya di HP, lalu diberikan ke saya. Dia nggak berani buka duluan, mungkin masih belum PD karena SNBP yang lalu tidak lulus. Akhirnya saya yang lihat duluan, dengan hati pasrah lillahita'ala apapun yang Allah putuskan kali ini. Terbaca tulisan 'selamat', nama Aini, dan jurusan Teknik Biomedis UI

Saya ambruk sujud syukur sambil menangis. Aini takut-takut bertanya ,'Lulus Ma? Pilihan ke berapa?' 'Kesatu,' jawab saya. Saya memperlihatkan tulisan di akun SNBT-nya. Aini terbengong-bengong, seakan tidak percaya. Tidak lama, ia ikut menangis dalam pelukan saya. 

Bangga 


Beberapa hari sebelumnya, saya sempat katakan pada Aini kalau kali ini ia lulus SNBT dan merasa bangga, maka rasa itu adalah miliknya. Saya dan ayahnya tidak akan mengambil credit untuk itu dan kalau dibolehkan kami hanya 'nebeng' bangga sedikit aja. Sekedar untuk mengabarkan ke keluarga dan teman dekat saja, agar mereka tahu kabar baik tersebut dan bisa ikut mendoakan. 

Ketika pengumuman tadi keluar, saya katakan pada Aini ,'You earn it. Neng sudah belajar dan kerja keras.' 

Kurang lebih sebulan bimbel intensif untuk mengejar ketertinggalan karena tidak ada persiapan SNBT sama sekali, memulai dari nilai TO rendah hingga akhirnya meningkat menjelang hari ujian, menenggelamkan diri dalam soal-soal ujian baik bersama guru bimbel maupun sendirian. Saya dan suami menjadi saksi Aini bekerja sangat keras, bahkan hingga di hari H ujian. 

'Mata Neng sakit, capek lihat layar komputernya besar banget dan terang. Kepala Neng pusing, perut Neng mual sampai pengen muntah.' Begitu ceritanya seusai selesai ujian. Saya dan suami hanya bisa menyemangati sambil berdoa dalam hati. 

Kini, setelah pengumuman itu keluar, rasa lega dan syukur memenuhi hati kami. Berminggu-minggu menemani Aini belajar, mendengar keluh kesahnya, membantu menghadapi stresnya, mensupport dengan doa, Alhamdulillah Allah mempercayai kami dengan amanah menuntut ilmu ini. 

Hari ini awal yang baru. Semoga Allah tetap menyertai langkah kami dan memberi keberkahan dengan amanah ini. Seperti yang selalu saya katakan kepada Aini ,'Mama berdoa pada Allah semoga Neng bisa belajar di tempat yang baik dan dapat ilmu yang berkah untuk hidup Neng di dunia dan di akhirat. Aamiin...'
Share:

Mengenalkan Jurnaling Pada Anak




Seingat saya, pertama kali saya mengenalkan Aini pada kegiatan menulis diary adalah ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu, pertanyaan yang ia lontarkan pada saya adalah ,'Untuk apa? Kenapa Neng harus nulis di buku diary? Neng nggak suka nulis-nulis begitu, ribet!'

Saya pikir, wajar juga Aini berpendapat seperti itu; setiap hari jam belajarnya di sekolah sudah hampir 12 jam dari pagi hingga sore. Belum lagi, ketika sampai rumah pun masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Yang paling enak memang menghabiskan sisa waktu sebelum tidur dengan bersantai menonton film atau browsing di internet, seperti layaknya remaja lain.

Tapi saya tidak menyerah. Saya ajarkan Aini manfaat dari menulis diary mulai dari hal-hal yang sederhana. Saya bilang padanya ,'Enak loh, nulis diary, Neng bisa bikin catatan hal-hal yang Neng suka seperti film favorit, lagu favorit, dan lain-lain. Neng juga bisa nulis tentang buku cerita yang Neng suka, kenapa neng suka dan apa yang nggak disukai dari buku itu. Atau bisa bikin daftar tentang apa yang ingin Neng lakukan waktu liburan, nanti kalau sudah lulus sekolah.' Mendengar penjelasan panjang kali lebar tersebut, Aini pun akhirnya tertarik. Sepertinya, ia sudah mulai memiliki gambaran apa yang akan ia lakukan dengan buku diary.

Saya lalu memperlihatkan buku-buku diary yang dijual di toko online. Saya tunjukkan beda buku diary dengan buku notes kecil warna-warni yang sering saya belikan. Bila buku notes itu biasanya dipakai untuk main atau menulis catatan penting di sekolah, diary untuk 

Beberapa tahun setelahnya kini, kegiatan menulis buku harian sudah menjadi rutinitas yang selalu Aini sempatkan kapan pun. Buku-buku diary anak yang awalnya menemani pun kini sudah berganti menjadi buku jurnal yang gayanya sedikit formal. Aini bilang, menulis jurnal sebelum tidur di malam hari membantu ia untuk istirahat lebih nyaman karena mengurangi beban mental dari seharian bersekolah.

Saya bersyukur Aini kini sudah bisa mengambil manfaat dari menulis jurnal secara rutin. Ia memanfaatkan buku-buku jurnalnya untuk menulis apapun yang ia inginkan, mulai dari hal-hal yang penting di sekolah sampai curhat yang sifatnya personal. Bahkan buku-buku jurnalnya kini sudah mencapai beberapa buah, sebagian besar dibeli di toko online langganannya. Saya tidak pernah melarang setiap kali ia ingin membeli buku baru setelah yang lama sudah habis, karena saya tahu pasti ia menulis hampir setiap saat.

Pertama Kali Saya Mengenal Buku Agenda

Dulu ketika remaja, saya pun 'tidak sengaja' dikenalkan pada kegiatan jurnaling oleh Papa. Ceritanya, Papa dulu sering sekali membawa buku agenda yang tidak terpakai dari kantornya. Buku-buku tersebut sisa tahun sebelumnya yang tidak habis dibagi pada karyawannya, sehingga kalender dan tanggal di dalamnya sudah lewat. Papa membawa buku-buku agenda tersebut dan memberikannya kepada kami, anak-anaknya, untuk digunakan sebagai apapun yang kami mau.

Karena saat itu belum ada komputer dan gadget, apalagi internet, buku tulis adalah media hiburan sangat mengasyikkan bagi saya. Saya bebas menggambar, mengarang cerita, menulis lirik lagu yang saya dengarkan dari radio di buku tulis, termasuk agenda bekas pemberian Papa.

Share:

Belajar Mengenal Diri Saya Sendiri

 

Be Who I Am

Di usia 40 tahun lebih sekarang ini, saya baru belajar memahami pentingnya mengenali diri sendiri. Ternyata selama bertahun-tahun dalam hidup saya, sejak kecil, remaja, hingga dewasa saya tidak pernah benar-benar mengenali diri saya sendiri.

Siapa Saya?

Ketika kecil, yang saya kenali dari diri saya sendiri adalah Vani (Teteh, panggilan di keluarga) si Judes. Vani si Hitam. Vani si Gendut. Vani si Tukang Cemberut. Semua itu saya dapati dari orang-orang dekat di sekitar saya; keluarga inti dan keluarga besar.

Beranjak remaja, saya mengenali diri saya, juga dari apa yang dipersepsikan orang-orang di sekitar saya, sebagai Vani si Jago Bahasa Inggris, Vani si Pendiam, dan Vani si Kemayu. Persepsi baru tersebut saya dapatkan dari teman-teman di SMP yang banyak bergantung kepada saya saat pelajaran bahasa Inggris, serta teman SMA yang menjadi rekan seperjalanan dari gerbang sekolah ke jalan utama di perempatan Cijantung.

Ketika SMP, saya sangat menyenangi musik slow rock luar negeri dan mengoleksi beberapa album mereka seperti John Bon Jovi dan Roxette. Saya senang menempel poster penyanyi rock di dinding kamar saya dan menghafal lagu-lagu mereka. Bagi saya, para penyanyi rock itu sama seperti bintang cover idola dari majalah Gadis atau HAI yang banyak digandrungi remaja.

Saat SMA, ketika berjalan pulang bersama teman-teman sekelas atau satu organisasi yang ramai berteriak dan bersenda gurau, saya lebih banyak tersenyum atau bicara seperlunya. Padahal, di saat yang sama saya sebenarnya tidak pendiam-pendiam banget. Di luar waktu sekolah, saya ikut bela diri di lingkungan Kopassus Cijantung. Saya juga ikut les bahasa Inggris di lembaga LIA yang puluhan kilometer jaraknya dari rumah dan sekolah, dan harus saya tempuh dengan menaiki bus antar kota. Intinya, kalau saya dinilai orang lain sebagai kemayu, pendiam, tidak banyak gerak, ya tidak 100% benar. Mereka saja yang tidak benar-benar tahu tentang diri saya.

Tapi... ternyata saat itu saya sendiri pun tidak benar-benar mengenali diri saya sendiri. Contohnya dalam hal olahraga bela diri. Saya mengikuti olahraga ini sebagian karena disuruh oleh ayah saya, yang menginginkan agar saya lebih fit dan bugar, serta tidak terlalu 'berisi'. Padahal, setiap kali saya harus lari sebelum latihan dimulai, saya selalu berada di barisan paling belakang. Saya tidak kuat berlari jarak jauh dan hampir selalu kewalahan mengikuti langkah teman-teman saya.

Saya juga tidak jago mengingat gerakan-gerakan bela diri yang ada di setiap tingkatnya. Saya harus mengulang berkali-kali untuk bisa mengingat urutan gerakan yang berbeda-beda, baik ketika sedang latihan maupun saat di rumah. Hal yang paling bisa saya ingat dan lakukan dengan baik dari bela diri tersebut adalah latihan pernafasannya, yang bila saya perhatikan kini mirip dengan gerakan yoga. 

Namun, karena saat itu orangtua saya ingin saya aktif olahraga, akhirnya saya terpaksa mengikuti. Padahal, kalau boleh jujur saya sendiri lebih enjoy dengan kursus bahasa Inggris saya di LIA. 

Saya tidak pernah mengikuti lomba bahasa Inggris, tidak didorong untuk membuat karya dalam bahasa Inggris, atau bahkan berkesempatan memiliki buku-buku bacaan dalam bahasa Inggris. Orangtua saya sudah cukup senang dengan mengkursuskan saya di sana, namun tidak mendukung hal lainnya. Paling-paling, sesekali ayah saya mengajak saya dan adik mengunjungi perpustakaan British Council yang kebetulan berada satu gedung dengan kantor tempat ia bekerja. Tapi hanya sekedar melihat-lihat bukunya saja tanpa saya diberi kesempatan untuk meminjam buku yang saya inginkan. Sementara itu, uang saku saya sebagai pelajar tidak cukup membeli buku-buku seperti itu. Alhasil, saya hanya dapat menatap deretan buku-buku ber-cover tebal dan aneka topik tersebut dengan rasa iri. Persepi Tentang Diri Seumur hidup saya sejak kecil hingga dewasa, saya belajar untuk mengenali diri saya sendiri dari pandangan dan penilaian orang lain pada diri saya. Mulai dari usia sekolah, kuliah, bekerja, hingga berumahtangga, seluruh persepsi/ penilaian orang lain membentuk diri saya. Saya tidak pernah benar-benar mengenali diri saya sendiri, kecuali berdasarkan apa yang diucapkan atau dilakukan orang lain atas saya. Secara sifat, saya mengenal diri saya sebagai pasif, pendiam, pemalu, kemayu, judes, tidak suka bergaul. Secara fisik, saya mengenal diri saya sebagai gemuk berisi, hitam, pendek, tidak menarik. Meski sifat pendiam atau tubuh berisi tidak melulu berarti negatif, di benak saya semua penggambaran itu menciptakan citra diri yang buruk. Saya (berdasarkan penilaian orang lain) 70% buruk dan 30% baik, maka itu artinya saya tidak baik. Saya tidak ideal. Saya tidak sesuai dengan harapan mayoritas orang. Lebih jauh, bila didetilkan berarti saya tidak pintar, saya tidak menarik, saya tidak punya peluang sukses, saya tidak punya harapan. Karena buruknya penilaian diri saya sendiri tersebut, hampir sepanjang waktu dalam hidup saya lalui dengan rasa sedih dan tidak berharga. Ditambah lagi saya seorang perempuan, yang artinya banyak pengambilan sikap dalam hidup saya dipengaruhi oleh emosi. Hidup saya kemudian menjadi, selain tidak bahagia, juga tidak efisien. Kok bisa? Ya, karena untuk mengembalikan rasa berharga saya, saya akan melakukan apapun yang diinginkan orang lain atas saya. Dengan melakukan apa yang diinginkan orang lain, saya akan mendapat penilaian positif dari mereka, yang artinya dapat menambal-sulam citra diri negatif saya. Saya akan merasa 'sedikit' lebih bahagia akan penilaian positif tersebut. Tapi apakah hal itu efisien bagi hidup saya? Belum tentu. Apalagi bila yang mereka inginkan berlawanan dengan keinginan atau nilai saya sendiri. Hidup saya seperti lingkaran yang tidak ada ujung pangkalnya: penilaian posititf dari orang lain -> merasa bahagia -> menyadari inefisiensi -> kehilangan rasa bahagia -> mencari penilaian positif lainnya -> merasa bahagia, dan seterusnya. Contoh paling jelas adalah masa-masa ketika saya lulus SMA dan memulai perguruan tinggi. Saat lulus SMA, saya berusaha sekuat tenaga bisa memenuhi keinginan orangtua saya agar ananya ada yang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri. Saat tiba pengumuman ujian masuk, saya senang sekali karena lolos pada jurusan politik di sebuah PTN. Saya senang karena bisa 'membahagiakan' orangtua saya. Namun setelah dijalani beberapa waktu, hati saya tidak nyaman dan saya tidak merasa bahagia kuliah di sana. Saya lalu mengambil ujian masuk lagi, hingga akhirnya saya bisa masuk ke ITB. Saya kembali merasa senang dan merasa lebih bahagia lagi, karena bisa masuk ke perguruan tinggi yang lebih 'bergengsi'. Saat itu, saya merasa diri saya sangat positif karena penilaian yang sangat tinggi dari orangtua saya. Saya dinilai cerdas, tidak mudah menyerah, dan sebagainya. Tapi di saat yang sama, saya tidak bisa mengabaikan perasaan sedih akan waktu yang telah terbuang sebelumnya. Dinamika seperti itu berkali-kali muncul dalam hidup saya, semua disebabkan saya tidak pernah benar-benar mengenali diri saya sendiri. Hingga sejak kecil sampai dewasa, saya sibuk untuk mencari penilaian dari orang lain atas diri saya, baik dari orangtua, keluarga besar, teman, hingga orang lain yang kebetulan saya kenal dan temui. Saya tidak pernah tahu dan menyadari, bahwa sesungguhnya Tuhan sudah menitipkan sebuah kekuatan besar di diri saya sejak lahir. Vani, Si Senang Belajar Lompat ke belasan tahun berikutnya, kini, saya baru menyadari ada satu hal yang tidak pernah dipersepsikan dengan benar tentang saya oleh orang lain, yaitu Vani Si Senang Belajar. Entah mengapa, saya merasa penilaian yang positif ini memang sengaja disembunyikan oleh orang lain agar saya tidak mengetahui kekuatan diri saya tersebut. Di luar penilaian orang lain yang selama ini saya tahu; pendiam, pemalu, judes, plus penilaian fisik gemuk, hitam, dan pendek, sesungguhnya ada bagian dari diri saya yang tidak pernah hilang sejak saya kecil hingga dewasa. Yaitu, kesenangan saya akan belajar. bahwa saya bukan pribadi yang aneh karena tidak ambisius seperti orang-orang kebanyakan. Atau bahwa saya senang melucu sampai tertawa habis-habisan dan di saat lain bisa serius menekuni sesuatu. Atau bahwa bila saya sudah tertarik pada suatu hal saya bisa mempelajarinya dari A sampai Z tanpa bosan-bosan, mulai dari ilmu sains, sejarah, politik, web design, internet marketing, kerajinan tangan, dan banyak lagi. Atau bahwa saya (dengan intuisi saya miliki terhadap hal-hal di luar diri saya) dapat menarik garis lurus bahwa suatu kejadian akan menghasilkan kejadian lainnya atau sikap seseorang akan memicu sikap orang lainnya. Untuk saya, hal-hal seperti ini sangat mudah saya lakukan dan pahami.

Share:

Tugas Membuat Surat Resmi Bahasa Inggris Kelas 9

Surat Resmi

Berikut contoh tugas membuat surat untuk pelajaran bahasa Inggris kelas 9 (3 SMP). Surat bahasa Inggris ini berisi penerimaan tawaran kerja di sebuah perusahaan. Anda bisa mencontoh tugas ini dengan mengganti nama, email, serta topik utama di dalam surat.

(Tugas milik R.A. Athifah. Bila menggunakan contoh tugas ini, cantumkan link halaman yaitu ).

Formal Letter (Surat Resmi)

Charlotte Leslie
41819 Hazel Street
September 3 2021

To,
Alice Morgan
Manager of Marketing Division
Capsized Roses Company
3671 Azure Street

Dear Ms. Morgan,

It is with great enthusiasm that I accept the work offer as Graphic Designer for the Capsized Roses Company. I have thoroughly reviewed the details of the position in the letter of employment I received. I look forward to working in your marketing division to introduce your company’s works globally.

As we discussed, my starting salary will be $1000 with the full range of benefits granted to junior staffs. I understand the training program begins on October 10 in Totoro Building Hall, New York. As required, I will complete all the necessary employment and benefits documents prior to the training.

I will await further correspondence from your office for the employment contract. In the meantime, if you need any additional information, please contact me at (4692) 7525 453 or email at charlotteles05@gmail.com. I look forward to beginning my work and meeting my fellow colleagues at Capsized Roses Company.

Sincerely,

Charlotte Leslie

Terjemahan :

 

Charlotte Leslie
41819 Hazel Street
September 3 2021

Kepada,
Alice Morgan
Manager of Marketing Division
Capsized Roses Company
3671 Azure Street

Yth. Ms. Morgan,

Dengan sangat antusias saya menerima tawaran pekerjaan sebagai Desainer Grafis untuk Perusahaan Capsized Roses. Saya telah meninjau secara menyeluruh detail posisi dalam surat kerja yang saya terima. Saya berharap dapat bekerja di divisi pemasaran Anda untuk memperkenalkan karya perusahaan Anda secara global.

Seperti yang telah kita diskusikan, gaji awal saya adalah $ 1000 dengan berbagai tunjangan yang diberikan kepada staf junior. Saya memahami program pelatihan dimulai pada 10 Oktober di Totoro Building Hall, New York. Jika diperlukan, saya akan melengkapi semua dokumen ketenagakerjaan dan tunjangan yang diperlukan sebelum pelatihan.

Saya akan menunggu korespondensi lebih lanjut dari kantor Anda untuk kontrak kerja. Sementara itu, jika Anda memerlukan informasi tambahan, silakan hubungi saya di (4692) 7525 453 atau email di charlotteles05@gmail.com. Saya berharap untuk memulai pekerjaan saya dan bertemu dengan rekan kerja saya di Capsized Roses Company.

Hormat saya,

Charlotte Leslie

Share:

Tugas Membuat Surat Tidak Resmi Bahasa Inggris Kelas 9

Menulis Surat

Berikut contoh tugas membuat surat tidak resmi untuk pelajaran bahasa Inggris kelas 9 (3 SMP). Surat bahasa Inggris ini berisi cerita seorang kakak kepada adiknya tentang apa yang ia alami selama tinggal di asrama sekolah. Anda bisa mencontoh tugas ini dengan mengganti nama, email, serta topik utama di dalam surat.

(Tugas milik R.A. Athifah. Bila menggunakan contoh tugas ini, cantumkan link halaman yaitu ).

Non Formal Letter (Surat Tidak Resmi)

From: carolinejones@yahoo.com
To: cassiej25@yahoo.com

Subject: Greetings my favorite little sis

How are you? I'm so sorry I haven't written you any letter for weeks:(. I got a full 2 weeks final exams that just ended 2 days ago. Anyway, I have a funny story for you.

So yesterday, me and Claire (my roommate, you'll love her) decided to go for a walk at the park. We stopped at the cafe near campus to buy ourselves two cup of lattes and bagels. That morning was pretty chilly but the sky is clear. Once we got to the park, we sat under a tree and ate our breakfast. Suddenly we heard a meow from above us.

There was a tiny black kitten hanging in one of the branches, meowing at us. It seemed that it got stuck and was asking for our help. We panicked and almost spilled our lattes. Claire was screaming in my ears and jumping up and down trying to grab the kitten. She looked so ridiculous, I almost wanted to laugh at her but the poor kitten suddenly slipped from the branch and was hanging by its claws. That's when I also panicked.

We were screaming and jumping trying to get a hold of it but we didn’t succeed, the branch was too high for us to reach. We then settled on waiting for the kitten to fall so we could catch it and outstretched our hands. The kitten couldn't hold itself anymore and fell right on top of my palms. We were so relieved we could caught it in time.

Turned out, it wasn't just any black haired kitten. It's fur was curly and very pretty. It was so unique. It also looked tiny and young. We tried to look for its mother but we couldn't find her. It didn’t wear any collar either. We felt sorry for it and decided to take it home with us. We couldn't leave it alone out there. Especially in the cold like this:(

Claire and I brought it back to our dorms. Thankfully Mr. McLorenz doesn't have a ‘no pets policy’ so we were good to go. We found out it was a male as we bathed it and named him “Omi-omi”. He's quiet shy but very adorable. You should come and see him sometimes:). I’ve attached a picture of him in case you’re curious...

Anyways, I heard from Mom that you won the chess tournament! Congratulations Cass, I'm so happy for you! You definitely need to write me the details in your reply. And I’ll also treat you a box of Krispy Kreme when you come over. I hope you're all doing well at home:) Stay safe bubba. Love you, bye!

Share:

Tugas Resensi Buku Bahasa Indonesia Kelas 8

Resensi Buku

Berikut contoh tugas resensi buku fiksi pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 8 (2 SMP).

Judul buku fiksi : Cincin Odeleodeo

Isi cerita : Buku ini mengisahkan tentang gadis kecil bernama Clara yang periang namun pemalas. Suatu hari, ia menemukan cincin tua milik seorang penyihir jahat bernama Odeleodeo. Ibu Clara melarangnya untuk memakai cincin itu tetapi Clara berkeras dan diam-diam memakainya. Karena terus dipakai, Odeleodeo terbebas dari penjara di dalam cincin tersebut dan menculik ibu Clara untuk dijadikan hiasan kastilnya. Tidak hanya itu, ia juga mengubah Clara menjadi seekor burung kecil.

Clara yang telah berubah menjadi burung bertekad untuk menyelamatkan ibunya. Di perjalanannya ia bertemu dengan Pak Burung Hantu yang bijak dan Raja Angsa Hitam. Mereka menyuruh Clara menemui Penyair Bintang untuk menanyakan di mana kastil Odeleodeo berada. Penyair Bintang bercerita bahwa Clara harus menemui Rusa Putih yang pernah ditolong Odeleodeo. Clara melanjutkan perjalanannya dan ia bertemu dengan seekor gagak, bernama Gahit. Gahit berkata akan membantu menunjukaan jalan ke rumah rusa putih. Tetapi ia binatang yang licik yang kemudian menipu Clara. Rumah yang dibilangnya adalah rumah rusa putih ternyata milik sahabat rusa putih, landak belang dan ketika Clara sedang beristirahat, Gahit mencoba untuk mencuri cincin Clara.

Namun aksi Gahit itu digagalkan oleh Landak Belang, ia juga kemudian yang membawa Clara ke tempat rusa putih sesungguhnya berada. Rusa putih bercerita pada Clara, ia harus mendatangi kastil Dwighty karena itulah tempat terakhir yang harus dituju Clara sebelum ia akan sampai ke kastil Odeleodeo.  Sesaimpainya di kastil Dwighty, ia memohon untuk ditunjukan arah terakhir ke kastil Odeleodeo. Dwighty awalnya bersikeras tidak mau membantunya namu lama kelamaan haitnya melembut melihat sosok burung kecil yang malang tersebut dan akhirnya memberi petunjuk jalannya yang terakhir. Dengan itu, Clara akhirnya bisa sampai di kastil Odeleodeo.

Kelebihan dari buku ini terletak dari alur dan temanya yang unik juga tokoh-tokohnya yang bersahabat dengan anak kecil. Cerita ini juga mengajarkan agar kita tidak membantah perintah orang tua seperti halnya cLara yang bersikeras untuk memakei cincin tersebut meski telah dilarang oleh ibunya. Namun, dengan itu Clara akhirnya bangkit dan bertekad untuk menyelamatkan ibunya dari tangan penyihir jahat itu.

Kelemahan dari buku ini terletak di jumlah tokohnya yang sedikit terlalu banyak. Tokoh-tokoh tersebut memang yang membantu Clara untuk menuju ke kastil Odeleodeo tetapi beberapa diantaranya hanya terkesan untuk memping-pong Clara. Membuat alurnya terkesan lebih lama dari yang seharusnya.

Dari ulasan tersebut, kesimpulan yang dapat saya ambil adalah, ceritanya bagus dan cukup mendidik untuk anak-anak dengan pesan-pesan moralnya, namun tokoh pembantunya terlalu banyak untuk cerita sesingkat itu.


Share:

Tugas Drama Bahasa Indonesia Kelas 8

 

Drama

Berikut contoh tugas drama pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 8 (2 SMP). Drama ini mengambil kisah dongeng nasional yaitu "Timun Mas".

TIMUN MAS

 

Pada suatu masa, ada seorang perempuan tua yang hidup seorang diri bernama Mbok Yem. Setiap hari, ia berdoa kepada Tuhan agar mendapatkan seorang putri untuk menemaninya.

Suatu hari yang cerah ketika sedang mengurus kebunnya, Mbok Yem kedatangan seorang raksasa.

Raksasa : “Wahai perempuan tua! Aku dengar kau menginkan seorang putri ya?!”

Mbok Yem : “I-iya, Raksasa. Apa kau bisa membantuku?” /MBok Yem ketakutan/

Raksasa : “Ya. Aku akan mengabulkan permintaanmu memberikan seorang anak perempuan. Tetapi syaratnya, kalua anak itu sudah berumur 8 tahun aku akan datang untuk memakannya.”

Mbok Yem merasa senang dengan penawaran sang Raksasa, tapi ia merasa ragu dan khawatir dengan syaratnya. Namun, karena sangat menginginkan seorang anak, ia akhirnya menerima tawaran tersebut.

Mbok Yem : “B-baik raksasa. Aku terima tawaranmu.”

Raksasa : “Kalau begitu, terimalah biji timun ini dan rawatlah di kebunmu. Tapi ingat, kalau kau ingkar janji aku tidak akan ragu untuk menyakitimu!”

Mbok Yem : “I-iya tuan Raksasa, saya mengerti.”

Raksasa pun memberi sebuah kantong berisi biji timun dan pergi meninggalkan Mbok Yem.

Mbok Yem merawat tanaman timun tersebut dengan memberi air dan membersihkan daun-daunnya. Hingga suatu hari dilihatnya ada satu buah timun berwarna emas yang tumbuh sangat besar. Mbok Yem merasa sangat heran dan penasaran.

Mbok Yem : “Wah, buah yang ini besar sekali. Apa ya isinya, coba aku belah.”

Ketika dibelah, Mbok Yem sangat terkejut melihat ada seorang bayi di dalamnya. Ia langsung mengambilnya dan menangis penuh syukur.

Mbok Yem : ‘Oh, terima kasih Tuhan telah memberiku bayi yang cantik ini. Aku berjanji akan merawatnya sepenuh hati.”

Mbok Yem membawa bayi itu ke rumahnya. Ia menamainya ‘Timun Mas’, karena berasal dari buah timun berwarna emas.

Timun Mas tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang cantik dan baik hati. Ia senang membantu ibunya berkebun dan mengambil kayu bakar di hutan. Suatu hari ketika Timun Mas sedang mengambil kayu bakar, Raksasa tiba-tiba datang ke rumah Mbok Yem.

Raksasa : “Hai, Perempuan Tua! Mana anak yang kuberikan padamu? Bulan depan ia akan berumur 8 tahun, aku sudah tidak sabar memakannya!”

Mbok Yem : “Ia sedang tidak ada di rumah, Raksasa.”

Raksasa : “Jangan coba-coba menyembunyikannya! Aku akan datang lagi untuk menagih janjimu!  Hahaha…!”

Mbok Yem : “B-baik Raksasa.” /Mbok Yem menunduk sedih/

Setelah Raksasa pergi, Mbok Yem menceritakan kejadian itu pada Timun Mas.

Mbok Yem : “Ibu akan menemui seorang petapa di hutan, kau tunggulah di rumah dan jangan ke mana-mana.”

Timun Mas : “Baik, Bu, aku tidak akan meninggalkan rumah.” /Timun Mas mengangguk/

Mbok Yem pergi meninggalkan Timun Mas ke hutan. Sekembalinya dari hutan, ia memberikan Timun Mas sebuah kantung kecil.

Mbok Yem : “Bawalah kantung ini kemana pun kau pergi. Bila kau bertemu dengan Raksasa, larilah dan lemparkan benda-benda yang ada di kantung ini.”

Timun Mas : Baik, Bu. Aku akan mengikatnya di pinggang dan kubawa kemana pun.”

Sebulan kemudian, ketika Timun Mas asyik mengambil kayu bakar di hutan, seorang raksasa bertubuh tinggi besar dan berwajah menyeramkan menghampirinya.

Raksasa : “Hahaha… ini dia makananku!” /Raksasa mencoba menangkap Timun Mas/

Timun Mas : “Kau tidak akan bisa menangkapku!” /Timun Mas berlari/

Raksasa mengejar Timun Mas. Teringat akan pesan ibunya, Timun Mas merogoh kantung kecil di pinggangnya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah paku tajam berwarna hitam.

Timun Mas : “Rasakan ini!” /Timun Mas melempar paku itu/

Seketika, paku hitam itu berubah menjadi hutan bambu yang rimbun dan runcing.

Raksasa : “Hahaha…! Aku tidak takut hutan bambu! Aku akan memakannya!”

Raksasa memakan pohon-pohon bambu yang lebat tersebut. Timun Mas terus berlari. Ia merogoh kantungnya lagi dan mengambil segenggam garam.

Timun Mas : “Rasakan ini!” /Timun Mas menaburkan garam di udara/

Seketika, garam yang ditaburkan menjadi lautan. Raksasa tertawa. Tubuhnya lebih tinggi dari laut yang menghampar.

Raksasa : “Hahaha…! Aku tidak takut laut! Aku akan meminumnya!”

Dengan sekali tegukan, air laut yang menghalangi Timun Mas dan Raksasa pun habis. Timun Mas merasa khawatir. Ia kembali merogoh kantung pemberian ibunya. Dikeluarkannya sekotak terasi berwarna coklat kehitaman.

Raksasa : “Mana lagi senjatamu? Aku akan segera menangkapmu!” /Raksasa berlari semakin dekat/

Timun Mas : “Rasakan ini!” /Timun Mas berteriak sambal melempar terasi/

Seketika, terasi itu berubah menjadi kolam lumpur yang pekat dan dalam. Raksasa tidak dapat menghindar, ia masuk ke dalam kolam lumpur itu.

Raksasa : “Oh… apa ini?! Aku tidak bisa keluar dari sini!”

Timun Mas memperhatikan raksasa yang perlahan-lahan terbenam ke dalam lumpur. Ia merasa lega karena Raksasa tidak lagi mengejar dan ingin memakannya.

Setelah kolam lumpur mengering, Timun Mas kembali ke rumah. Ia disambut oleh ibunya dengan suka cita.

Mbok Yem : “Syukurlah, Timun Mas. Kau sudah selamat dari Raksasa.”

Timun Mas : “Iya, Bu. Aku senang bisa kembali lagi ke rumah.”

Mbok Yem dan Timun Mas hidup bahagia selama-lamanya.

Share:

Belajar Menanam Tanaman Hias

Tanaman Sirih Gading
Beberapa minggu terakhir ini saya dan Ayah sedang belajar menanam tanaman hias. Bersama-sama, kami merapikan teras dan menempatkan beberapa buah pot berisi tanaman baik yang digantung maupun tidak. Usaha kami tidak mudah, mulai dari mencari pot dan perlengkapannya (kawat, gantungan, kaki pot, dll), aneka media tanam (tanah kompos, akar pakis kering, batu kerikil malang, dll), membuat media tanam, hingga menanam tanaman di dalam pot berisi media tersebut.

Sebenarnya, sudah beberapa kali kami mencoba menanam tanaman hias seperti pohon melati dan beberapa buah cemara di dalam pot. Sayangnya karena tidak tahu dan enggan belajar cara memeliharanya, semua tanaman yang kami beli (kecuali melati), mati.

Akhirnya kira-kira setahun yang lalu, kami membeli tanaman baru dari tukang pohon yang berkeliling komplek. Tidak sekedar membeli, kami juga memintanya untuk sekaligus menanamkan tanaman-tanaman itu di pot. Maka jadilah kami memiliki melati, bambu Jepang, aglaonema, dan sebuah pohon bunga kecil tanpa susah-payah menghiasi teras kami.

Saya ingat benar, saat itu ketika tukang pohon sibuk membuat media tanam dan memasukkan tanaman ke dalam pot, saya hanya memperhatikan dengan rasa ingin tahu. Saya sama sekali tidak mengerti bagaimana cara mencampur tanah dan pupuk, memindahkan tanaman dari satu pot ke pot yang lainnya, dan seterusnya. Kondisi saya saat itu sama persis seperti bertahun-tahun sebelumnya di proyek menanam pohon yang pertama.

Saya masih tidak mengerti bagaimana cara terbaik memelihara tanaman-tanaman hias tersebut. Yang saya tahu hanyalah harus rutin menyiramnya minimal sehari sekali di waktu pagi. Namun, saya tidak tahu bahwa tanahnya bisa menjadi liat karena terlalu basah dan karenanya harus digemburkan kembali. Saya juga tidak mengerti bahwa ada kalanya saya perlu mengganti media tanamnya dengan yang baru agar tetap subur, diberi pupuk, dan lain-lain.

Namun meski penuh dengan ketidaktahuan, kali ini kami berhasil memelihara keempat tanaman hias tersebut. Dengan setianya, mereka menghiasi teras kecil kami berbulan-bulan lamanya, melalui panas dan hujan. Lama-kelamaan, hati saya tergelitik untuk mengetahui bagaimana sebenarnya cara memelihara tanaman hias yang baik. Lalu, apakah sebenarnya saya bisa memeliharanya seorang diri tanpa bantuan tukang pohon keliling yang semakin jarang melalui komplek rumah. Saya berharap, bila kami bisa memelihara tanaman hias dengan baik, kami bisa menambah jumlah tanaman baik di luar dan di dalam rumah untuk mengurangi debu yang semakin hari semakin bertambah.

Saya lalu teringat akan tanaman Peace Lily yang saya beli untuk tugas sekolah Aini baru-baru ini. Tanaman yang saya beli melalui Tokopedia itu teronggok di pojok teras dalam sebuah pot kecil berisi tanah dan sekam yang mengering. Tanaman lily itu satu-satunya yang nekat saya tanam sendiri setelah datang dari penjualnya. Awalnya, tanaman itu datang dalam pot plastik yang sangat kecil, kemudian saya pindahkan ke pot yang lebih besar sambil saya tambahkan pupuk ke dalamnya. Ajaib (bagi saya), tanaman itu tetap bertahan setelah sekian waktu, meski dalam kondisi yang memprihatinkan (batang-batangnya kecil, daun-daunnya kering bahkan ada yang layu, serta tidak satupun bunganya muncul). Melihat kondisi tanaman lily tersebut, dorongan di dalam hati untuk bisa memelihara tanaman hias semakin besar. Maka, periode berikutnya belajar tentang tanaman hias pun dimulai. Saya dan Ayah mengawalinya dengan membeli dua kantong pupuk berisi tanah humus dan campuran lainnya, dan sekam mentah dari tukang tanaman hias di pinggir jalan Juanda.

Lalu, pagi hari ketika Ayah di kantor, saya seorang diri 'nekat' membongkar pot tanaman bambu, aglaonema, dan lily. Sepanjang duduk di jongkok plastik sambil mengeluarkan tanah dari dalam pot, saya terus berdoa. Hati saya deg-degan. Seumur hidup dari kecil hingga sekarang, tidak pernah sekalipun saya berkutat dengan tanaman. Membongkar tanah, mengeluarkan akar tanaman, membuat media tanam dengan pupuk dan sekam, sama sekali tidak ada dalam rekaman memori saya. Intinya saat itu saya hanya bermodal nekat dan doa, serta keinginan yang sangat besar agar bisa memelihara tanaman-tanaman hias di teras saya.

Ternyata, proses membongkar pot dengan susah-payah itu adalah tahap kedua saya belajar menanam tanaman hias. Saya jadi tahu mengapa saya kesulitan mengosongkan pot dan mengeluarkan akar, yaitu karena tanah di dalamnya sangat liat dan basah. Padahal, tanah yang terlalu liat menyebabkan oksigen kurang bisa masuk ke dalam tanah untuk diserap oleh akar tanaman sebagai bahan bakar selain air. Tambahan lagi, kurangnya oksigen di dalam tanah akan membuat organisme kecil di dalam tanah seperti cacing tidak bisa hidup dengan baik dan membantu menyehatkan tanah.

Selesai mengeluarkan tanah yang liat dari dalam pot, saya lalu mengaduk-aduknya dan menambahkan pupuk serta sekam mentah ke dalamnya. Tujuannya agar tanah kembali menjadi gembur dan baik digunakan sebagai media tanam. Baru setelah campuran itu jadi, tanaman-tanaman yang tadi saya keluarkan saya tanam kembali di potnya masing-masing.

Ketiga tanaman yang telah saya bongkar lagi-lagi (ajaibnya) berhasil bertahan hidup. Tidak satupun dari tanaman itu yang mati, meskipun juga belum tumbuh sempurna. Tanaman bambu dan lily adalah yang paling berhasil bertahan dari proses belajar saya yang pertama. Sedangkan, tanaman Aglaonema yang saya bongkar dan tanam lagi batangnya tetap bertambah meski daunnya tidak bertambah.

Melihat hal itu, rasa percaya diri saya semakin bertambah. Entah mengapa, saya merasa yakin bahwa ada 'sesuatu' yang Allah titipkan pada saya terhadap tanaman-tanaman tersebut. Ada sedikit rasa yakin bahwa bila saya mau berusaha dan bersungguh-sungguh memelihara tanaman hias, insya Allah saya akan bisa melakukannya.

Sekali lagi, saya tidak pernah berkutat dengan tanaman seumur hidup saya sejak kecil hingga dewasa. Saya pun tidak punya pengetahuan khusus sama sekali tentang tanaman. Yang saya tahu adalah, sejak kecil saya sudah menyukai alam. Pemandangan bukit, taman, bunga, pohon, rumput liar, adalah hal-hal yang sangat saya sukai.

Maka, sambil mengucap Bismillah, saya mengajak Ayah untuk sekali lagi melengkapi peralatan bertaman. Kami membeli tambahan pupuk, media tanam, pot, sekop tanah, dan tanaman hias dari beberapa tempat di Depok. Kali ini, perjalanan 'berburu' kami sudah lebih canggih dengan informasi yang lebih lengkap dari beberapa video dan website tutorial. Kami tidak hanya membeli pupuk, namun juga akar pakis, pasir malang, dan sekam bakar. Potnya pun tidak hanya yang dijejerkan di bawah, namun juga pot gantung dan kaki pot dari besi.

Proses belajar menanam tanaman hias terus berjalan seiring waktu, seiring dengan semakin banyaknya ilmu dan pengalaman yang kami ketahui tentang menanam. Secara pribadi, saya sangat bersyukur Allah menunjukkan bakat naturalis saya yang selama ini terpendam. Tanpa petunjuk-Nya, saya tidak akan pernah menyadari bahwa saya memiliki bakat tersebut. Meski benar, saya tidak (belum) jago, tapi insya Allah saya percaya akan bisa dengan seijin-Nya. Aamiin.


Share:

Mendengarkan dan Mengakui Perasaan-Perasaan Saat di SMA

Mengobrol

Sewaktu SMA, saya pernah memiliki perasaan tertentu kepada beberapa orang teman namun tidak pernah saya ungkapkan pada siapapun. Perasaan ini bukan perasaan romantis ke lawan jenis, namun perasaan bingung, heran, sedih, dan kecewa kepada teman sesama jenis. Namun, saat itu saya tidak punya siapa-siapa untuk tempat curhat (orangtua sibuk bekerja, adik-adik masih kecil, Om/ Tante/ Nenek tidak terlalu dekat); akibatnya secara tidak sadar saya masih membawa perasaan itu hingga dewasa.

Saya sempat merasa beberapa teman perempuan saya (baik yang sekelas maupun seorganisasi di sekolah), bersikap kurang 'wajar' terhadap saya. Awalnya mereka baik; saya pun bersikap baik dengan mereka. Mereka ramah, saya pun ramah. Namun lama-kelamaan, sikap mereka berubah. Ada yang menjadi cuek seakan-akan tidak kenal dengan saya (saking cueknya sampai bila saya berkata atau bertanya langsung kepadanya dia diam saja seperti tidak mendengar apa-apa). Ada yang, tahu bahwa saya memiliki fasilitas untuk mengetik dengan komputer dan mengeprint (tahun '90an awal) di rumah, membebani saya dengan pekerjaan administrasi di organisasi sekolah tanpa sedikitpun membantu hingga saya merasa kewalahan dan kesal. Bagi saya, apa yang mereka lakukan itu bukan siap yang seharusnya kepada teman yang mereka kenal.

Teman yang pertama, mungkin merasa terusik dengan keberadaan saya yang sekelas dengannya. Saya yang introvert, pendiam, dan sangat minder, tidak sejalan dengannya yang ekstrovert, periang, gaul, dll. Sehingga bila saya bicara dengannya, suara saya mungkin tidak terdengar sama sekali (terlebih kelas selalu gaduh dengan suara murid yang ribut) hingga saya benar-benar dianggap invisible olehnya. Yang saya rasakan saat itu adalah, apa yang salah dengan saya? Kenapa dia tidak peduli dan mendiamkan saya? Kenapa dia seakan-akan tidak menganggap saya ada?

Sedangkan, teman kedua sebenarnya cukup dekat dengan saya karena kami sama-sama mengikuti kegiatan di dalam dan luar sekolah. Saya anggap dia teman yang baik, setia kawan, mau menjadi tempat curhat tentang masalah pribadi saya. Namun, sikapnya saat di depan dan belakang saya adalah dua hal yang berbeda. Saat bersama saya, dia baik dan perhatian. Namun saat kami bersama dengan orang lain, dia tidak memedulikan saya sama sekali. Saat di depan orang lain, dirinyalah yang penting dan saya seakan-akan tidak ada. Saat itu, saya hanya bisa berpikir betapa aneh dan tidak wajarnya memiliki kepribadian yang berbeda-beda seperti itu. Apakah teman saya tersebut memiliki kepribadian ganda? Saya ingin sekali bercerita dan bertanya kepada seseorang, tapi tidak bisa.

Saat saya SMA, ayah dan ibu saya sedang di tahap pendakian karir. Ayah saya mulai mantap posisinya sebagai manager di kantor dan sehari-hari waktunya tersita untuk pekerjaannya. Ibu saya baru memulai sekolah TK dan Play Group miliknya sendiri, dan di waktu luangnya sibuk menambah ilmu agama. Adik-adik saya masih SMP dan SD, kakak saya sibuk dengan teman-temannya sendiri. Sedangkan saya, sebagai seorang introvert, hanya punya sedikit teman dan rasanya tidak nyaman membicarakan tentang seorang teman padahal kami semua bersekolah di tempat yang sama. Akibatnya, saya hanya bisa memendam perasaan tersebut di dalam hati seorang diri saja.

Kini setelah dewasa, beberapa kali saya melihat foto teman-teman saya tersebut di media sosial mereka dan perasaan yang pernah saya punya dulu kembali muncul. Saya tidak iri sama sekali dengan kehidupan yang mereka miliki saat ini. Semua kebaikan, keunggulan, dan keberuntungan yang mereka punyai justru ikut saya syukuri. Namun, sebersit tanya tetap hinggap di hati saya, kenapa dulu mereka bersikap seperti itu kepada saya...? Apakah saya yang salah kepada mereka? Benarkah apa yang saya rasakan itu ataukah hanya prasangka saya saja...? Ternyata, perasaan-perasaan itu, sekuat apapun saya pendam tetap ada di alam bawah sadar saya dan terkadang mengusik pikiran, meskipun tidak sampai mengganggu.

Akhirnya, saya putuskan untuk bercerita kepada Ayah mengenai apa yang saya rasakan saat di SMA tersebut. Sepanjang saya cerita, Ayah mendengarkan dengan perhatian. Sesekali saya memperlihatkan medsos teman-teman saya tersebut agar ia mendapat pemahaman lebih jelas mengenai orang-orang yang saya bicarakan. Di akhir pembicaraan, Ayah berkata bahwa ia paham dan mengerti apa yang saya rasakan saat itu. Ayah juga bilang bahwa apa yang saya rasakan itu wajar dan pantas, karena saya memang merasakan perbedaan sikap yang cukup ekstrim dari teman-teman saya tersebut.

Ayah bilang, bila suatu saat saya bertemu lagi dengan mereka, anggap saja mereka seperti orang biasa yang saya tahu namun tidak terlalu kenal dekat. Artinya, bersikap wajar dan ramah saja, tapi tidak perlu sampai membuka diri kepada mereka. Menyapa seperlunya saja dan tidak usah berusah-payah berusaha mendekatkan diri kepada mereka. Seperti kehidupan bertetangga di komplek rumah, cukup layangkan senyum ramah namun tetap menjaga dan menghormati batasan masing-masing keluarga.

Bagi saya, sikap Ayah yang mau mendengarkan dan mengakui perasaan-perasaan yang saya miliki tersebut sangat melegakan. Diri saya (dan saya sewaktu SMA) merasa dimengerti dan diterima. Bahwa apa yang saya rasakan saat itu adalah benar-benar ada dan bukan hanya hayalan saya saja. Bahwa saya saat itu memang merasa khawatir, kecewa, dan marah kepada teman-teman yang saya tersebut. Bahwa wajar saya merasa demikian karena saya sudah berusaha bersikap baik sebagai teman; tidak menuntut, menerima, membantu, baik, namun justru diperlakukan sebaliknya.

Selesai saya bercerita, rasanya tirai hitam yang menutupi salah satu ruangan di hati saya terangkat. Seakan-akan cahaya matahari masuk dan menembus kaca jendela di ruangan tersebut. Ruangan yang tadinya gelap hitam pekat tersebut, ditandai dengan perasaan 'nagih' dan selalu ingin bertanya setiap kali melihat foto teman-teman SMA tersebut di medsos, tiba-tiba jadi seperti lowong, kosong, dan terang-benderang. Seperti sesuatu yang tadinya ada di sana tiba-tiba hilang dan meninggalkan perasaan terang, nyaman, hangat.

Ruangan Kosong di Hati

Ruangan di hati saya tersebut, adalah salah satu dari milyaran memori atau alam bawah sadar, yang berasal dari masa lalu saya. Kini setelah tidak lagi ada beban di dalamnya, saya merasa siap untuk benar-benar untuk menutup dan melepaskannya. Saya tidak lagi merasa terusik untuk bertanya kepada teman-teman saya tersebut saat melihat wajah mereka di medsos. Saya bahkan tidak lagi terlalu ingin tahu sekali mengenai kehidupan mereka; seperti halnya saya tidak ingin tahu lebih dalam mengenai kehidupan rumah tangga tetangga saya. Mereka punya batasan, saya pun punya batasan. Mereka dan saya adalah sama kini. Mereka tidak lebih tinggi daripada saya (seperti yang dulu saya rasakan saat di sekolah) dan saya pun tidak. Kami sama dan sejajar. Apa yang perlu saya ketahui tentang mereka adalah yang sewajarnya saja; tidak kurang dan tidak lebih.

Apa yang saya dan Ayah lakukan; bercerita dan mendengarkan, menurut yang pernah saya pelajari adalah perilaku mengakui dan menvalidasi perasaan. Bahasa Inggrisnya adalah acknowledging and validating feelings, yaitu mendengarkan dan memperhatikan dengan penuh perhatian terhadap apa yang dirasakan seseorang kemudian menvalidasi atau mengakui perasaan tersebut.

Didengarkan dan diakui perasaannya adalah hal yang penting bagi setiap manusia, karena manusia memiliki unsur perasaan selain akal dan raga. Perasaan (baik positif maupun negatif) butuh untuk disalurkan dalam bentuk didengarkan, dimengerti, dan diakui. Bila tidak, maka perasaan akan terus tertinggal di dalam memori dan mengendap di alam bawah sadar. Sebagai contoh, orang-orang yang memendam perasaan negatif di masa lalunya bisa mengekspresikan perasan tersebut menjadi sikap antipati atau anti sosial di masa depannya. Orang lain yang kesulitan mengekspresikan perasaannya menjadi depresi, menderita berbagai penyakit psikosomatis, dan lain-lain.

Dengan didengarkan dan diakui perasaannya, seseorang jadi lebih mudah melepaskan perasaan tersebut (bila negatif) atau menyimpannya sebagai sumber kebaikan (bila positif). Seperti sebuah ruangan, bila berisi batu hitam besar maka ruangan itu menjadi sempit, tidak berguna, tidak memberi manfaat apa-apa, bahkan menjadi beban yang terus dibawa seumur hidup. Namun bila ruangan itu telah kosong dari beban dan penuh cahaya, maka bisa dihiasi dengan bunga-bunga yang indah, furnitur yang cantik, pengharum ruangan, dan sebagainya untuk berfungsi sebagai tempat bermeditasi, refleksi diri sendiri, relaksasi, dan merancang masa depan.

Curhat Ke Orangtua, Menvalidasi Perasaan

Acknowldeging feelings atau mendengarkan/ mengetahui/ memahami perasaan dilakukan dapat diungkap dengan kata-kata seperti 'Saya mengerti', 'Saya mendengarkan', 'Saya paham', dan harus disertai dengan sikap yang memperlihatkan kesungguhan mendengar. Hal-hal lain yang mengganggu konsentrasi harus ditinggalkan agar apa yang disampaikan bisa benar-benar dipahami oleh si pendengar.

Validating feelings atau mengakui/ mengesahkan perasaan bisa diungkapkan dengan kata-kata seperti 'Wajar kamu merasa seperti itu', 'Sudah pasti kamu akan merasa seperti itu', dan sejenisnya, diikuti dengan perilaku yang positif. Hal ini tidak akan efektif bila dilakukan dengan sikap mengecilkan perasaan seperti berkata 'Apa yang kamu rasakan tidak benar', 'Itu hanya perasaanmu saja', 'Berpikirlah positif', 'Jangan berpikir yang tidak-tidak', dan lain-lain. Karena sikap tersebut meniadakan perasaan yang sesungguhnya benar-benar ada dan dirasakan oleh yang berbicara di hadapannya.

Mendengarkan dan mengakui perasaan bisa dilakukan oleh siapapun; sesama pasangan, orangtua ke anak atau sebaliknya, sesama saudara, teman, dan lain-lain. Hanya saja bila memang sedang tidak siap untuk mendengar, sebaiknya diungkapkan di awal agar tidak terjadi kekecewaan. Katakan bahwa Anda akan siap mendengarkan di waktu yang lain atau setelah selesai mengerjakan suatu kewajiban. Perasaan yang didengarkan dan diakui akan lebih mudah diatur, karena tidak akan menetap di dalam hati seperti bom waktu yang menunggu meledak.

Share:

Mengajak Aini Berobat ke Dokter Gigi

Ruang Dokter Gigi
Kemarin siang saya mengajak Aini berobat ke dokter gigi yang ada di daerah dekat rumah kami. Ini kali pertama saya dan Aini ke klinik dokter gigi tersebut; saya mendapatkan informasi mengenai dokter gigi tersebut dari Ayah. Menurut Ayah, yang pernah membersihkan karang gigi di sana, dokternya telaten dan sabar.

Tujuan saya membawa Aini ke dokter gigi adalah untuk membersihkan karang giginya. Ini adalah janji yang sudah lama ingin saya tunaikan untuk Aini; terakhir karang gigi Aini dibersihkan dua atau tiga tahun yang lalu. Sudah sangat lama. Saya khawatir sudah banyak karang gigi tumbuh dan mengganggu kesehatan giginya. Alhamdulillah, minggu ini ia libur sekolah jadi saya bisa membawanya ke dokter gigi.

Selain membersihkan karang gigi Aini, saya juga ingin mengobati beberapa permasalahan gigi saya sendiri. Saya akui saya ini produk parenting jadul yang sangat kurang memperhatikan kesehatan gigi. Seingat saya, pertama kali saya ke dokter gigi untuk perawatan gigi adalah ketika saya sudah hampir lulus kuliah. Saat itu, ada gigi geraham saya yang berlubang dan Mama menyuruh saya berobat ke tetangga yang kebetulan membuka prakter dokter gigi di rumahnya. Selebihnya, baru setelah menikah dan memiliki anak saya kembali ke dokter gigi untuk memeriksakan gigi saya. Itu pun awalnya karena Aini punya beberapa permasalahan dengan giginya (polip gigi). Nah, kesempatan yang baik kemarin siang itu tidak saya sia-siakan; selagi Aini libur sekolah dan dokternya pun ada jadwal kosong.

Naik Grab Untuk Berobat Ke Dokter Gigi

Saya dan Aini pergi ke dokter gigi dengan menaiki mobil Grab. Siang itu pula adalah kali pertama saya menggunakan jasa Grab. Biasanya, saya pergi ke suatu tempat menggunakan ojek, angkot, atau taksi. Saya tidak biasa menggunakan ojek online (baik Grab atau Gojek) karena kurang bisa beramah-tamah dengan supirnya. Bila menggunakan angkutan umum lain, saya hanya tinggal duduk diam hingga tempat tujuan. Tapi, karena saat itu Ayah sedang tidak bisa mengantar, jadilah saya dan Aini pergi menggunakan Grab.

Karena baru pertama kali menaiki Grab dan saya memiliki sejumlah uang di akun OVO, saya mendapat diskon harga dan hanya membayar Rp 1,- saja untuk perjalan ke dokter gigi. Saat melihat harga yang ditawarkan di aplikasi (sebelum memesan mobil), saya kaget sekali. Masa sih, hanya membayar satu rupiah saja untuk perjalanan sekitar 2 kilometer lebih tersebut? Tapi ternyata memang benar. Ketika saya tanyakan hal itu ke supir Grab, ia menjelaskan bahwa uang sejumlah tersebut sudah otomatis terpotong dari akun OVO saya. Tadinya saya merasa tidak enak sekali... tapi Bapak Supirnya menjelaskan dengan tanpa beban, jadi saya pun merasa lega. Setelah saya turun, saya beri bintang lima untuk Bapak Supir yang ramah tersebut, dan tips Rp 5.000,- (saya tidak tega hanya membayar Rp 1,- untuk mengangkut saya dan Aini dengan mobil yang nyaman!).

Di Klinik Dokter Gigi

Sesampainya di klinik, kami menunggu di kantin yang ada tepat di sisi klinik. Saya dan Aini makan siang dulu sebelum diperiksa Dokter, karena bila ada lubang gigi yang harus ditambal, minimal 2 jam setelah itu baru kami bisa makan.

Setelah menikmati dua mangkuk bakso malang dan sepiring nasi plus ayam geprek tanpa sambal, kami pun ke klinik. Ternyata dokternya belum datang. Kami menunggu di ruang tunggu sambil mengisi kartu pasien. Aini menunggu sambil membaca novel Maze Runner yang baru dibelinya di Gunung Agung. Sementara itu, saya asyik membuka-buka instagram.

Tidak lama kami menunggu, Dokter pun datang. Ternyata, dokternya masih muda dan ia datang sambil membawa anak perempuannya yang masih berusia sekitar 5 tahunan. Setelah menyapa saya dan Aini, ia masuk ke ruangannya dan menyiapkan peralatan. Sebentar kemudian, Dokter memanggil Saya dan Aini ke ruangannya dan menanyai keluhan kami.

Saya menceritakan pada Dokter bahwa Aini sudah lama tidak dibersihkan karang giginya dan memintanya untuk sekalian memeriksa kalau-kalau ada gigi yang berlubang. Saya juga menceritakan permasalahan gigi saya yang lumayan banyak. Mulai dari crown gigi atas yang telah berusia lama dan kini patah, dinding geraham atas yang patah, dan beberapa lubang yang ada di sisi antara dua gigi. Yah... maklumlah. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya adalah produk dari parenting jadul yang tidak menganggap penting perawatan dan kesehatan gigi. Perawatan gigi yang saya lakukan di masa setelah menikah sebenarnya sudah terhitung telat... tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Membersihkan Karang Gigi Aini

Dokter memutuskan untuk memeriksa gigi Aini terlebih dahulu. Dengan telaten ia mengecek satu-persatu kondisi gigi Aini kemudian membersihkan karang giginya. Proses pembersihan karang gigi Aini berlangsung tidak terlalu lama. Selesai membersihkan karang gigi, Dokter memberitahu saya dan Aini bahwa karang gigi Aini tidak terlalu banyak. Kondisi giginya pun cukup baik untuk anak seusianya. Hanya saja ada beberapa buah lubang kecil yang mulai terbentuk di mahkota gigi geraham yang berlekuk-lekuk.

Saya meminta Dokter untuk melakukan penambalan atau pelapisan (fisur) agar lubangnya tidak bertambah dalam. Dokternya menyanggupi, hanya saja tidak bisa dilakukan saat itu juga karena lubangnya ada beberapa tempat. Jadi, saya harus membuat jadwal lain untuk kembali ke sana. Meski demikian, saya sangat bersyukur mendengar penjelasan Dokter bahwa kondisi gigi Aini lumayan baik. Saya memang bertekad agar Aini tidak sampai mengalami apa yang saya alami ketika kecil, kurang terperhatikan kesehatan giginya. Kapanpun itu, insya Allah saya akan membawa Aini kembali ke klinik untuk penambalan lubang-lubang kecil di giginya.

Gigi-Gigi Bermasalah

Selesai Aini, giliran saya duduk di kursi dokter gigi pun tiba. Dengan hati berdebar-debar saya membuka mulut. Saya sudah pasrah mendengar apapun yang akan Dokter katakan mengenai kondisi gigi saya.

Dengan telaten dan hati-hati, Dokter memeriksa gigi saya satu-persatu lalu menjelaskan permasalahan demi permasalahan di gigi saya. Ternyata, geraham ketiga yang gompal sudah hilang 1/4 mahkotanya. Dokter menjelaskan, bila ruang sarafnya sudah terbuka maka saya harus menjalani perawatan saraf dulu sebelum lubangnya ditutup. Bila tidak, maka ia akan langsung memumifikasi gigi tersebut untuk melindungi gigi yang masih tersisa.

Kemudian, tentang crown gigi yang sudah patah karena usang (lebih dari 6 tahun), Dokter meminta saya untuk meronsennya terlebih dahulu. Tujuannya agar diketahui sejauh mana proses perawatan sebelumnya dan apakah ada infeksi yang membuat saya pusing akhir-akhir ini atau tidak.

Satu masalah lagi adalah lubang yang terletak di posisi 'ajaib', yaitu di antara mahkota gigi taring dan geraham pertama di sebelah kanan bawah. Akibat posisinya yang tersembunyi ini, sisa makanan mudah sekali menyelip dan sulit dibersihkan. Lebih parah lagi, akhir-akhir ini saya mulai merasakan nyeri di gusi dan pusing di kepala belakang bawah karena kedua gigi tersebut.

Meski sedih dengan semua permasalahan yang saya dengar, saya senang telah menyempatkan pergi berobat ke dokter gigi. Bila tidak, bisa saja masalah gigi saya jadi lebih buruk dan berakibat fatal tanpa saya sadari.

Obat Pemati Saraf

Sebelum pulang, Dokter mengatakan bahwa ketiga gigi saya di'otak-atik' tersebut diberi obat pemati saraf. Obat itu akan membuat saraf-saraf yang dekat dengan mahkota atau permukaan gigi jadi tidak responsif. Gunanya agar saya tidak merasakan sakit saat Dokter kembali mengobati gigi saya minggu depan. Dokter juga meresepkan obat antibiotik dan penahan rasa sakit untuk mengatasi sakitnya proses pematian saraf tersebut.

Yang mengagetkan, obat pemati saraf tersebut ternyata bekerja dengan sangat cepat. Baru saja membayar pengobatan, ngilu dan nyut-nyutan di ketiga gigi yang diobati mulai saya rasakan. Rasanya mulut kanan atas dan bawah saya sampai kaku karena rasa sakit yang menjalar. Saya sampai gemetaran menahan sakit sambil berjalan mencari apotik. Tapi, ternyata tidak ada satu pun apotik di sekitar klinik. Akhirnya saya mencari Grab lagi untuk membawa saya dan Aini ke apotik yang ada di perjalanan pulang.

Mau tahu bagaimana rasanya sakit gigi setelah diberi obat pemati saraf? Huuh... sakiiit sekali. Ngilu, perih, nyut-nyutan hingga ke kepala. Itu baru satu gigi; pada kasus saya tiga gigi sekaligus. Kebayang kan sakitnya?

Saya sampai meminum obat asam mefenamat dan kalsium diklofenak bersamaan. Itu pun tidak langsung reda melainkan harus menunggu hingga hampir setengah jam dulu baru terasa efeknya. Menjelang tengah malam, rasa sakitnya kembali datang sampai saya terbangun tiba-tiba dari tidur. Saya pun kembali minum obat penahan rasa sakit. Sempat saya merasa putus asa dan berpikir jangan-jangan rasa sakit itu tidak akan berakhir. Akhirnya, saya bawa tidur saja dan sakitnya pun tidak terlalu terasa.

Rasa Sakit Gigi Mulai Reda

Syukur Alhamdulillah, keesokan harinya rasa sakit pada gigi yang bermasalah sudah mulai reda. Sepertinya obatnya sudah mulai teresap sempurna dan membuat gigi tersebut jadi sedikit 'baal' atau mati rasa. Saya hanya meneruskan meminum antibiotik sesuai dengan yang diresepkan.

Minggu depan, insya Allah saya akan kembali ke Dokter untuk menyerahkan hasil ronsen dan melanjutkan perawatan gigi. Saya sudah meminta Dokter untuk 'mengerjakan' permasalahan-permasalahan di gigi saya secara bertahap. Artinya, diobati dan disembuhkan satu-persatu dan tidak langsung semuanya. Terus terang, saya masih agak trauma bila ingat lagi rasa sakit setelah berobat ke dokter gigi yang pertama. Tapi... bagaimanapun saya harus menjalani proses ini agar gigi saya benar-benar jadi sehat dan kuat.

Share:

Kisah Aini Membuat Video Drama

Anak-anak Sekolah

Membuat video drama untuk pelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu tugas yang harus Aini kerjakan di semester II kelas 7 ini. Untuk tugas itu, gurunya membagi murid-murid menjadi beberapa buah kelompok yang terdiri 4 - 5 orang.

Sabtu pagi kemarin adalah hari teman-teman Aini datang ke rumah untuk menyelesaikan tugas membuat video drama tersebut. Sebenarnya, bukan hari itu saja teman-temannya datang ke rumah. Beberapa minggu sebelumnya pun mereka datang untuk mengerjakan tugas-tugas lainnya; membuat makanan untuk dijual (pelajaran matematika) dan latihan menari tarian daerah (pelajaran Seni Budaya).

Video Drama Fabel

Video drama yang akan dibuat adalah drama fabel. Awalnya, saya sempat ragu ketika tahu bahwa Aini dan teman-temannya belum mempunyai skrip drama yang akan mereka perankan. Tapi, ternyata, anak-anak generasi Z ini memang luar biasa. Bermodal Wi-Fi dan search engine, mereka bisa menentukan drama yang akan dilakukan berdasarkan video cerita fabel di YouTube.

Tiga orang teman Aini datang sebelum jam 9 tepat. Berempat (dengan Aini), mereka lalu menulis script drama yang diambil dari video YouTube di buku tulis. Tidak lama kemudian, mereka keluar rumah sambil membawa handphone masing-masing untuk berlatih dan mengambil film.

Saya sempat memperhatikan dari balik jendela, ternyata Aini dan teman-temannya sedang bermain ayunan di taman sambil mengobrol. Entah apa yang mereka obrolkan, tapi sepertinya seru sekali. Agak lama juga mereka berada di luar rumah; sesekali mereka kembali ke rumah untuk minum lalu keluar lagi hingga beberapa kali.

Ketika teman-temannya sudah pulang, Aini bercerita bahwa mereka membuat video drama sambil berjalan kaki di sekitaran komplek. Rupanya, tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, mereka hanya membuat drama percakapan tokoh-tokoh yang ada di cerita fabel. Pantas saja mereka tidak menyiapkan kostum apa pun sama sekali; hanya pakaian muslim yang mereka kenakan sambil mengambil film.

Tantangan di Era Internet

Saya cukup senang dengan proses belajar bersama Aini dan teman-temannya kali ini. Sebab, kali ini mereka tidak berlama-lama mengerjakan tugas sambil bermain sehingga tugasnya pun selesai dengan efektif. Ya, saya paham bahwa anak-anak seusia Aini senang berkumpul dan main dengan teman-temannya, seperti halnya saya dulu ketika masih SMP. Hanya saja, tantangan jaman sekarang berupa internet sangatlah besar. Jika dulu saya dan teman-teman SMP sekedar berkumpul untuk mengobrol, bergosip, dan tertawa bareng sambil mamakan cemilan, saat ini anak-anak usia SMP / SMA (atau mungkin bahkan SD?) lebih senang mengoprek internet saat tengah bermain bersama.

Sementara itu, di rumah saya terdapat free Wi-Fi yang bisa diakses oleh Aini dan juga teman-temannya. Satu aturan saya kepada Aini, boleh membuka YouTube berupa lagu, tapi tidak boleh menonton film. Kalau sebatas lagu, saya rasa masih bisa ditoleransi karena biasanya mereka hanya tertarik kepada liriknya. Walaupun, memang, beberapa penyanyi dari luar negeri cenderung menampilkan aksi yang terlalu 'terbuka' sehingga saya tetap perlu mewanti-wanti lewat Aini.

Nah, kalau film, mereka harus meminta ijin khusus dulu dari saya akan menonton apa. Saya sendiri mengijinkan Aini menonton film di internet, tapi terbatas film-film keluarga, kartun, atau superheroes. Alhamdulillah, hingga saat ini Aini tidak tertarik pada film-film yang full berisi drama romantis remaja yang memang bukan untuk usianya.

Demikianlah sedikit cerita tentang Aini membuat video drama dengan teman-temannya. Semoga saja Aini dan teman-temannya senang dengan proses belajar bersama di rumah kami tersebut. Meski dihiasi sebuah insiden kecil (salah satu temannya menginjak bangkai tikus di jalan), tugas membuat video drama fabel mereka berhasil dengan cukup baik.

Share:

Saya Sebagai Penulis (1)

Penulis

Sebagai penulis, saya justru mulai menyampaikan cerita-cerita saya tidak lewat tulisan. Awalnya, saya bercerita lewat dongeng kepada adik-adik saya dan anak-anak tetangga di sekitar rumah. Kalau tidak salah, saat itu saya masih duduk di kelas 3 atau 4 SD sedangkan anak-anak tetangga itu seumuran dengan adik saya, sekitar dua atau tiga tahun lebih muda. Meski masih kecil saya sudah fasih mendongeng cerita yang, kalau dipikir lagi sekarang, agak absurd, aneh, dan kocak.

Salah satu dongeng yang masih saya ingat adalah tentang sendok dan garpu. Entah bagaimana isi ceritanya, saya sudah lupa sama sekali. Yang jelas terekam dalam ingatan saya hingga kini adalah wajah-wajah para 'pendengar' dongeng yang terkesima dan seakan-akan terhipnotis dengan cerita saya. Ya, adik saya dan anak-anak tetangga itu, sampai tidak berkedip dan mulutnya menganga mendengar saya bercerita hingga habis. Selesai mendongeng, ada rasa puas di dalam hati saya bisa 'menyihir' mereka lewat kata-kata dan sedikit, saya tekankan di sini, sedikiiiiiiit rasa geli melihat mereka yang mau saja saya 'kibuli' lewat dongeng. Padahal kan apa yang saya cerita tadi tidak nyata, tapi kok mereka percaya saja...? pikir saya saat itu. Little that I know that, what I felt that day would come again in more elegant ways after finishing more of my writings, years later.

Kesenangan saya mendongeng saya dapatkan dari dua orang : Wak Maman dan Papa. Wak Maman adalah kakaknya Mama. Orangnya energis, selalu ceria, kreatif, dan tidak pernah habis dengan ide-ide menarik. Beliau senang membuat mainan-mainan dari kayu seperti tempat tidur dan lemari untuk boneka, dan memberikannya untuk saya dan adik saya. Selain kreatif dengan pekerjaan tangan, Wak Maman juga senang mendongeng. Seringkali bila kami bersilaturahmi ke rumahnya, beliau mendongeng kepada kami dan anak-anaknya, cerita mulai dari yang lucu hingga seram. Ekspresi beliau saat mendongeng tidak bisa tergantikan, benar-benar lahir dari penghayatan atas cerita yang dibawakan. Sehingga kami yang mendengarnya ikut terpingkal-pingkal geli ataupun merasa ngeri.

Papa pun sering mendongeng kepada anak-anaknya ketika kami (saya, Aban, Vina, dan Avni) masih kecil. Biasanya Papa bercerita di malam hari libur sambil bersantai di teras ditemani kacang. Papa lebih banyak bercerita tentang sejarah keluarganya; kisah hidup Opa (Kakek) di masa muda, kisah masa kecil Papa, dan kehidupannya bersama 10 orang adik-adiknya. Pernah Papa mengisahkan cerita-cerita yang seram seperti tentang pedangang sate di kota Bogor yang bertemu dengan kuntilanak, kisah salah satu keluarga jauhnya yang menghilang karena durhaka kepada ibunya, dan macam-macam lagi. Saya rasa, dari Papa-lah saya banyak terinspirasi cerita-cerita yang lebih terkesan 'serius'.

Berbekal cerita-cerita yang dikisahkan secara lisan itulah, saya kemudian mulai mengarang dongeng saya sendiri. Dongeng yang kemudian saya ceritakan lagi kepada adik dan anak-anak tetangga di sekitaran rumah saya sepulang sekolah. Dongeng yang makin lama semakin berkembang karakter, alur, dan konflik ceritanya.

Menjelang SMP hingga SMA, saya tidak banyak mengarang cerita atau dongeng lagi. Saya mulai menjalani kehidupan sebagai pra-remaja dengan segala dinamikanya; aneka jenis teman dengan beragam latar belakang, pelajaran yang semakin sulit, hingga konflik tentang rasa percaya diri. Sehingga, saya lebih banyak diam dan berpikir analitis. Satu-satunya pelarian saya atas kejenuhan sekolah adalah mendengarkan lagu-lagu metal dan membuat aneka gambar berbentuk doodles.

Ketika SMA, saya memberanikan diri mengikuti lomba menulis di acara 17 Agustus-an di komplek perumahan saya. Saya lupa tema tulisan yang saya buat dengan tangan saat itu, kalau tidak salah pendapat saya (sebagai remaja) tentang kemerdekaan Indonesia. Ternyata saya menjadi juara di lomba tersebut dan mendapat hadiah berupa diary. Sebenarnya, saya agak curiga saya satu-satunya peserta di lomba tersebut. Karena anak-anak lain lebih memilih ikut lomba menari, menyanyi, kelereng, sepeda hias, dan lomba-lomba lainnya. Tapi tidak apa-apa, saya sangat senang dengan hadiah yang didapat. Lagipula, pengalaman itu membuat saya cukup yakin bahwa tulisan saya 'diterima' oleh orang lain yang membacanya.

Share:

Mengenang Ketika Kecil : Ditinggalkan dan Dikuasai

Pengalaman saya, ketika beranjak remaja saya seringkali ditinggalkan oleh Mama yang sibuk meraih karirnya. Mama aktif di pengajian komplek, menjadi guru TK, memiliki usaha salon, dan lain-lain. Mama pun tidak pernah sepi jadwalnya dari menuntut ilmu baik secara formal maupun non formal, dan membagikan ilmunya di forum-forum. Saya sering merasa kesepian, kurang diperhatikan, dan kurang kasih sayang dari Mama. Setiap kali pulang sekolah, hanya ada pembantu yang menunggui rumah. Rumah terasa sepi dan dingin, tidak ada kehangatan yang semestinya dipancarkan ketika ada seorang ibu di rumah. Ketika Mama tidak sedang pergi pun, Mama lebih banyak istirahat dan saya serta adik-adik tidak boleh mengganggu beliau. Ketika selesai istirahat, Mama segera merapikan diri untuk pergi lagi dan mengisi jadwal berikutnya.

Saya tidak bisa meminta Mama untuk tidak pergi karena Mama akan menjelaskan panjang bahwa kepergiannya adalah untuk hal-hal yang 'baik'. Saat itu saya hanya bisa menerima saja, namun kini setelah dewasa saya berpikir apakah bersama anak di rumah bukan hal yang baik untuk dilakukan?

Pengalaman dengan Papa justru sebaliknya. Meski Papa pun tipe yang selalu bekerja keras untuk meraih pencapaian terbaik di kantornya, Papa masih meluangkan waktu dan perhatian untuk anak-anaknya. Saya seringkali disemangati dengan ucapan 'Kalau orang lain bisa, kenapa kita nggak?' dan karenanya saya banyak melakukan hal-hal yang mungkin saat itu saya tidak suka namun tidak berani menolak. Contohnya adalah mengikuti silat di komplek rumah dan saat di SMA. Saya tipe orang yang gerak refleknya lambat dan resistansi tubuhnya tidak besar. Setiap kali berlari sebelum latihan silat, saya jadi orang yang ada di barisan paling akhir karena kehabisan nafas. Saya pun tidak kuat menghancurkan batako dan benda-benda keras lainnya. Bahkan, ketika uji duel pun saya lebih sering melakukan jurus acak karena lupa dan tidak reflek.

Ketika dewasa kini, saya jadi berpikir bolak-balik kenapa saya harus mengikuti latihan silat yang mungkin sebenarnya bukan keahlian saya? Saya fasih berbahasa Inggris sejak di bangku SMP. Saya senang bermain komputer desain. Mengapa saya tidak melakukan hal-hal yang saya sukai tersebut dan malah berlatih silat? Ok lah Papa ingin supaya saya sehat dan tidak gampang gemuk, tapi bukankah masih banyak olahraga lain yang sesuai dengan karakteristik fisik saya?

Seperti itulah pengalaman yang ingin saya bagikan. Semoga Anda yang memiliki orangtua seperti saya

Share:

Doa Mengenal Allah

Ya Allah, bantu hamba menjadi ibu yang baik bagi putri hamba

Bantu hamba mengenalkan-Mu pada putri hamba

Bantu hamba mengenalkan cinta-Mu pada putri hamba

Lapangkan jalan kami untuk mengenal-Mu

lapangkan jalan kami untuk mengenal-Mu

Mudahkan kami untuk mencintai-Mu

mudahkan kami untuk mencintai-Mu

Agar di mana pun kami berada,

kemanapun kaki kami melangkah,

hanya wajah-Mu yang kami tuju

hanya ridho-Mu yang kami rindu

Share:

Hasil Ujian Nasional Aini


Pagi hari ini, saya dan Aini datang menghadiri undangan sekolah untuk pembagian hasil ujian nasional. Seluruh peserta undangan (orangtua dan murid kelas 6) dikumpulkan di ruangan aula lantai satu untuk mengikuti jalannya acara berupa sambutan dan kesan pesan dari kepala sekolah dan guru-guru kelas 6, serta pembagian hasil ujian. 

Selesai acara sambutan dan kesan pesan, tiga murid dengan nilai ujian nasional terbaik dipanggil ke depan aula bersama orangtuanya. Nilai ujian terbaik ke-3 dipanggil, ternyata seorang anak laki-laki yang sejak kelas satu selalu bersaing nilai dengan Aini di kelas. Anak tersebut maju ke depan kelas bersama dengan ibunya. 

Nilai ujian terbaik ke-2 dipanggil, ternyata Aini. Subhanallah, saya kaget sekaligus bersyukur, tidak menyangka sama sekali Aini mendapat nilai ujian nasional terbaik ke-2 di sekolahnya. Aini dan saya maju ke depan dan berdiri di samping anak laki-laki dan ibunya yang sudah lebih dulu ke depan. 

Setelah itu, murid dengan peringkat nilai ujian nasional terbaik dipanggil, ternyata sahabat terdekat Aini yang juga menjadi teman belajar dan bermainnya di sekolah. Sayang sekali baik ia maupun orangtuanya tidak datang hari itu. Syukur Alhamdulillah, 

Share:

Semalam di Hotel Santika Premier ICE BSD

Tanggal 23 Desember yang lalu, kami sekeluarga menginap semalam di Hotel Santika Premier ICE BSD. Kenapa ada embel-embel 'ICE BSD'? Saat tiba di sana, saya baru tahu bahwa ternyat hotel tersebut menempel sangat dekat dengan gedung ICE (Indonesia Conference Exhibition) yaitu arena pameran besar baru di BSD Tangerang. Bahkan, parkir basement gedung ICE dan hotel pun berbagi tempat yang sama. Kami tiba di hotel hari sabtu tanggal 23 Desember sekitar pukul 2 lewat siang. Sesampainya di teras lobi, saya dan Aini segera turun dari mobil sambil membawa koper dan tas berisi baju sementara Ayah membawa mobil ke parkiran di basement hotel. Petugas yang menjaga di lobi hotel dengan sigap membantu kami membawakan barang-barang bawaan ke dalam. Kami memang tidak mau lama-lama berada di luar hotel, karena berdiri di parkiran gedung setinggi 15 lantai tersebut membuat kami diterpa angin yang sangat kuat dan dingin. Di dalam lobi, sudah banyak pengunjung yang datang dengan barang bawaan mereka masing-masing. Antrian check in di lobi pun sudah mulai terbentuk selagi saya dan Aini duduk santai menikmati welcome drink jahe dingin. Saya berjalan-jalan mengitari lobi yang nyaman dengan sofa-sofa dan kursinya yang empuk. Tidak berapa lama, Ayah pun datang dari tempat parkir dan ikut mengantri untuk check in. Kami mendapatkan kamar nomor 1506, kamar eksekutif yang terletak di lantai 15 dengan membayar sekitar 1,13 juta untuk semalam. Saya dan Ayah penasaran seperti apa kamar yang diberi label 'eksekutif' tersebut; apakah jauh lebih ekspektasi kami atau tidak. Naik lift ke lantai 15, kami akhirnya tiba di depan pintu kamar 1506. Setelah membuka pintu dengan kunci otomatis, kami pun masuk ke dalam kamar dan seketika terkejut. Ternyata, tersebut melebihi apa yang kami harapkan sebelumnya; terdiri dari dua ruangan dan satu kamar mandi secara keseluruhan kamar tersebut cukup luas untuk kami bertiga. Ruang pertama yang kami masuki adalah ruang tamu dengan sofa, meja kopi, TV, dan meja dengan pendingin. Dari ruang tamu, kami masuk ke dalam ruang tidur yang berisi kasur berukuran Queen, meja baca, TV, dan lemari pakaian. Di dalam ruang tidur terdapat kamar mandi yang luas dengan meja dan wastafel yang besar serta ruang shower yang dipisahkan dengan dinding kaca dari toilet. Over all, kamar yang nyaman dan lega! Karena rencana awal kami menginap di hotel ini adalah untuk berekreasi ke Mall AEON (baca Wisata Kuliner Jepang di Mall AEON BSD), kami tidak berlama-lama beristirahat dan segera bersiap pergi ke AEON.
Share:

Pentingnya Sedia Obat Inhalasi Sendiri

Inhalasi
Hari minggu kemarin, Aini terserang batuk yang lumayan mengganggu. Tidak parah memang, tapi suara 'uhuk-uhuk' yang terdengar sambung-menyambung membuat saya kasihan dan khawatir.

Awalnya karena beberapa hari yang lalu ia, tanpa sepengatahuan saya, membuat roti puff pastry dengan isi selai coklat dan kacang. Selai coklat yang digunakan adalah selai ceres, sedangkan selai kacangnya dari morin. Ketika Aini meminta ijin untuk membuatnya, saya hanya mengiyakan tanpa mengeceknya. Aini sudah cukup mahir membuat aneka roti puff pastry dengan berbagai isian, jadi saya pikir tidak akan bermasalah. Ternyata saya salah, saya tidak mengecek seberapa banyak selai yang ia gunakan dalam satu potong roti.

Akhirnya, ketika ia selesai makan puff pastry dan tidak berapa lama kemudian mulai mengeluarkan suara 'ehem-ehem' dan suaranya serak, barulah saya sadar. Ternyata Aini menggunakan selai lumayan banyak dan akibatnya berpengaruh pada tenggorokannya yang sensitif. Bisa ditebak, besoknya gejala asmanya datang.

Bila biasanya asmanya dimulai dengan bersin-bersin, pilek, kemudian batuk dan akhirnya sesak nafas, kali ini gejalanya dimulai dari suaranya yang menghilang. Tiba-tiba saja, suara Aini menjadi 'imut-imut', kecil sekali seperti suara anak TK. Aini tampaknya menyadari hal itu dan bilang kepada saya bahwa suaranya mengecil. Saya juga sudah menyadarinya, dan sedikit curiga jangan-jangan ada hubungannya dengan Aini makan puff pastry berisi selai yang banyak kemarin. Tapi, karena tidak ada gejala asma lainnya, saya tidak terlalu memikirkan.

Perkiraan saya salah. Keesokan harinya hingga lusa, Aini mulai bentuk batuk-batuk kecil. Karena batuknya tidak parah dan sampai membuat demam yang menandakan iritasi, saya hanya memberikan obat batuk Ambroxol seperti biasa. Tetapi, semakin hari batuk Aini semakin bertambah berat. Ia juga mulai terlihat gampang lelah, sehingga akhirnya saya memutuskan sudah saatnya harus memberikan inhalasi.

Alhamdulillah kami sudah memiliki alat inhalasi (nebulator sendiri), sehingga bisa kami gunakan kapan pun kami butuh. Tapi, masalah lain tiba-tiba datang. Obat inhalasi dan suntikan yang biasanya saya simpan di dekat nebulator tiba-tiba saja tidak ada. Saya panik. Dibantu Ayah dan Aini, saya mengobrak-abrik seisi rumah. Mengecek setiap lemari dan laci, melihat ke atas lemari kalau-kalau saya lupa dan menyimpannya di sana. Tapi, kami tetap tidak bisa menemukan sisa beberapa buah ampul obat dan suntikannya itu. Akhirnya, kami hanya bisa pasrah dan menyimpulkan bahwa (mungkin saja) obat inhalasi dan suntikan itu jatuh dan terbuang oleh ART kami.

Kami pun mencoba membeli apa yang kami butuhkan tersebut di apotek. Apotek pertama yang kami datangi adalah K24. Di sana, kami bisa mendapatkan obat-obatan yang kami perlukan, tapi tidak dengan suntikannya. Di apotek kedua, apotek Kimia Farma, lagi-lagi kami tidak bisa mendapatkannya meski saya sudah menunjukkan obat-obatan yang baru kami beli untuk membuktikan bahwa suntikan itu tidak untuk disalahgunakan. Saya benar-benar sedih. Suntikan itu sangat kami perlukan untuk mengambil larutan Na Cl yang tersimpan di dalam botol infus. Tetapi, apotek-apotek tersebut tidak mau memberikannya kepada kami dengan berbagai alasan.

Di apotek terakhir, baru akhirnya saya memahami bahwa untuk mendapatkan suntikan tersebut harus melalui resep dokter. Suntikan tidak bisa dibeli secara langsung di apotek, harus ada dokter yang meresepkan untuk digunakan oleh pasien yang membutuhkan. Dalam kasus saya, satu-satunya cara adalah dengan memeriksakan Aini ke dokter terlebih dulu untuk mendapatkan resep agar saya bisa membeli suntikan dan obat-obatan inhalasi (lagi).

Kami pun memutuskan untuk membawa Aini ke klinik Nurul Fikri yang buka 24 jam. Meski tidak terlalu besar, klinik itu memiliki dokter jaga yang selalu siap memeriksa pasien. Karenanya, segera setelah Aini didaftarkan di resepsionis, ia pun bisa diperiksa oleh dokter.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa bernafas lega. Aini pun diperiksa dan diberi resep obat inhalasi dan suntikan yang sangat kami butuhkan. Dokter hanya berpesan pendek agar suntikan tersebut digunakan dengan tepat. Tentu saja saya dan Ayah kompak menjawab iya. Suntikan itu memang hanya akan kami gunakan untuk keperluan inhalasi, bukan untuk yang lainnya.

Akhirnya, Aini bisa diinhalasi di rumah menggunakan nebulator milik kami sendiri. Perjuangan mendapatkan obat inhalasi dan suntikan yang berliku-liku di hari itu menjadi kisah yang sangat berarti buat saya. Kisah Aini diinhalasi dan sebuah kejadian yang tidak mengenakkan karena tidak cocok dengan obat akan saya ceritakan di post berikutnya.


Share:

Pengalaman Memakai Masker Kefir

Masker Facial

Karena bercita-cita bisa tampil di hari lebaran tahun ini (Agustus 2016) dengan wajah yang cerah dan glowing, saya memberanikan diri memesan masker kefir dari seorang penjual kefir di instagram. Saya akui saya terlambat memesan, karena hanya tersisa beberapa hari saja sebelum lebaran tiba untuk waktu pemesanan hingga pengiriman.

Apa yang saya takutkan benar-benar terjadi; kefir yang saya pesan terhambat pengirimannya karena hari raya Idul Fitri. Seharusnya, pengiriman hanya memakan waktu 2 - 3 hari tapi saya harus menunggu sampai hampir enam hari sampai paket kefir itu tiba di rumah. Saat tiba, gel pendingin di dalam paketnya pun sudah hangat... saya tidak bisa membayangkan bagaimana isi kefirnya itu sendiri. Padahal, masker kefir ini paling baik bila disimpan dalam kondisi dingin untuk menjaganya tahan lama.

Karena sayang sudah mengeluarkan seratus ribu rupiah untuk 10 bungkus plastik masker kefir ini, akhirnya saya nekat memakainya meski dengan harap-harap cemas. Hati kecil saya mengatakan untuk berkonsultasi dulu dengan dokter kulit saya di klinik Wijaya, tapi nafsu ingin mendapatkan hasil instan mengalahkan suara hati saya.

Yang saya pahami adalah, masker kefir ini dibuat dari susu sapi atau kambing yang telah difermentasikan dengan biji kefir. Hasilnya adalah cairan kental yang berwarna putih kekuningan, berbau asam seperti yoghurt, dan disebut-sebut memiliki khasiat bisa mencerahkan wajah dan menghilangkan jerawat. Hanya saja, ada sedikit masalah di sini; biji kefir memiliki bahan dasar bakteri probiotik. Artinya, perlu ada penanganan khusus dalam penyimpanan dan pemakaiannya.

Saya tidak tahu pasti apakah kondisi kefir yang saya terima (setelah bermalam di kantor JNE lumayan lama) masih bagus atau tidak. Apakah kefir itu masih bisa digunakan sebagai masker atau tidak?

Oya, sebagai info, paket kefir yang saya terima dimuat dalam plastik-plastik perekat ukuran kecil. Jumlahnya ada 10 buah dan semuanya ditempatkan di dalam toples plastik bersama kertas aturan pakai dan gel pendingin kecil. Saat membuka paket itu, sebersit tanya mampir dalam hati; apakah cara pengepakan seperti ini baik? Setahu saya, susu cair saja tidak boleh dibiarkan dalam udara terbuka bila tidak habis diminum. Kenapa kefir yang mengandung susu ini hanya ditempatkan dalam plastik non kedap udara biasa? Apakah tidak ada resiko kontaminasi bakteri yang berbahaya?

Iya sih, bibit kefir sendiri sudah mengandung bakteri probiotik. Tapi, bagaimana seandainya ada bakteri lain yang ikut menumpang akibat pengepakan yang sederhana seperti ini? Untuk tahu pastinya, saya coba memakainya sesuai dengan petunjuknya.

Paket kefir yang terdiri dari 10 bungkus, satu bungkusnya saya pakai dua kali sehari pagi dan sore. Saya ikuti aturan cara pakainya seperti wajah dibersihkan dulu sebelum pakai dan dibersihkan dengan air dingin setelah pakai.

Hari pertama pemakaian, wajah masih terlihat biasa saja. Hari kedua dan ketiga, saya mulai merasa wajah terasa agak lembab dan kenyal. Hari-hari berikutnya terlihat agak cerah dan bercahaya.

Tetapi, menjelang akhir minggu pemakaian, saya mulai merasakan ada yang aneh di wajah saya. Tiba-tiba saja, jerawat kecil-kecil bermunculan di wajah saya sekitar pipi dan dagu. Saya perhatikan, semakin hari semakin banyak jerawat muncul di tempat yang berbeda-beda. Karena penasaran, saya mencoba untuk terus memakai masker kefir tersebut, terutama di tempat jerawat-jerawat itu berada.

Tetapi, semakin hari semakin banyak jerawat bermunculan. Jerawat yang sudah ada sebelumnya pun tidak hilang dengan pemakaian kefir, malah semakin besar dan mulai terasa sakit.

Saya cari informasi tentang hal ini di internet, katanya ini adalah proses purging, atau breakout, yaitu reaksi kulit dengan keluarnya jerawat sebagai akibat dari detoksifikasi kefir di wajah. Katanya sih... setelah beberapa lama hal itu akan hilang. Cuma, kok di saya terasa parah?

Wajah jadi terasa sangat tidak nyaman; jerawat yang membesar seperti bentolan merah berisi air dan terasa cekit-cekit. Makin sakit kalau tidak sengaja tersentuh. Jerawat kecil seperti komedo semakin tambah banyak. Akhirnya, pemakaian masker kefir saya hentikan sebelum habis semua satu paket.

Saya jadi bingung apa yang harus saya lakukan dengan kondisi wajah seperti ini. Akhirnya, saya putuskan untuk kembali ke klinik langganan saya di Wijaya Platinum untuk mendapatkan perawatan. Hiks. Harapan bisa dapat wajah cerah, lembab, dan glowing dengan masker kefir hilang sudah. Padahal, kalau 'katanya' proses detoksifikasinya itu disebabkan oleh pemakaian zat-zat kimia di wajah, selama ini perawatan wajah yang paling rutin saya lakukan ya di klinik itu saja satu-satunya. Produk-produk dari dokter di sana pun selama ini tidak bermasalah di wajah saya dan tidak menimbulkan ketergantungan. Artinya, produk-produknya lumayan 'ramah' bagi kulit wajah saya yang super sensitif ini. Kalau kemudian wajah saya bereaksi parah dengan masker kefir ini... hm... yang mana yang salah ya??

akhirnya saya kembali ke dokter yang biasa merawat wajah saya di klinik Wijaya Platinum Depok.

Saat bertemu dengan dokter langganan saya, dr. Eka, beliau langsung 'takjub' melihat jerawat-jerawat saya yang merah dan bengkak. Sekejap melihat, ia langsung menyarangkan agar saya disuntik antibiotik di jerawat-jerawat tersebut. Disuntik?! Wah... seperti apa rasanya?? Lengan yang tidak sakit saja bila disuntik untuk diambil darah cukup membuat senut-senut, tidak terbayang ini... jerawat yang merah melendung besar.

Ketika saya tanya kenapa harus disuntik antibiotik, Dokter menjelaskan bahwa jerawat yang seperti ini disebabkan banyak bakteri di dalamnya. Glek. Saya tidak berani bicara terus-terang bahwa jerawat-jerawat ini timbul sesudah saya memakai masker kefir. Khawatir dimarahi karena saya memakai produk untuk wajah yang belum memenuhi standar kesehatan.

Saya maklum kalau dr. Eka mengambil kesimpulan demikian, karena selama saya merawat wajah tidak sekalipun ia pernah menemukan jerawat semacam ini bersarang di wajah saya. Paling-paling hanya kelebihan lemak yang perlu dicauter untuk dibersihkan dari wajah. Atau komedo yang membarengi wajah kusam akibat sering berpanas-panasan di luar dan jarang mendapatkan facial. Tidak ada jerawat yang sampai membengkak merah seperti cacar air yang siap pecah (sebenarnya, Ayah sempat menantang saya untuk memecahkan sendiri saja jerawat-jerawat itu, tapi saya tidak berani. Saya takut kalau resikonya jadi lebih besar karena menggunakan tangan yang tidak steril).

Akhirnya, saya pasrah dan mengikuti saran Dokter. Saya diberi daftar resep yang selain berisi krim perawatan wajah juga obat antibiotik yang akan disuntikkan. Semua itu saya bayar dahulu di resepsionis sebelum saya pergi ke lantai dua ke ruang facial. Di sana, wajah saya dibersihkan dengan pembersih standar yang biasa dipakai saat facial. Bedanya, saya tidak menjalani seluruh proses facial, hanya dibersihkan saja wajahnya kemudian menunggu Dokter datang.

Setelah beberapa saat menunggu, Dokter pun datang. Dibantu dengan seorang terapis, ia menyuntik satu demi satu jerawat saya yang merah membengkak. Setiap kali jarum suntik menusuk jerawat saya, saya meringis menahan sakit. Memang sih jarumnya hanya jarum bayi yang kecil dan tipis, tapi tetap saja ketika jarum itu menembus kulit yang tengah meradang terasa menyengat. Akhirnya saya hanya bisa pasrah, menahan nafas agar tidak terasa terlalu sakit saat jarum berkali-kali menyuntikkan antibiotik ke pipi kanan dan dagu kiri saya, tempat para jerawat bergerombol. Setelah selesai, Dokter berpesan agar sementara saya tidak memakai krim perawatan wajah untuk sementara, hingga jerawatnya mengempes.

Syukur Alhamdulillah, saya tidak perlu menunggu lama sampai jerawat-jerawat itu kempes. Sekitar dua hari setelah disuntik, bengkaknya mulai berkurang dan semakin lama semakin kempes hingga benar-benar rata dengan kulit. Tinggallah kemudian bekas-bekasnya yaitu bercak berwarna kehitaman.

Lalu, apakah saya menyesal telah memakai masker kefir? Jawabannya: ya, saya menyesal. Penyesalan saya adalah karena tidak berhati-hati menggunakan produk perawatan wajah yang belum diketahui dengan jelas penangannya, baik dari segi pembuatan, penyimpanan, dan pengirimannya. Padahal wajah saya tergolong sensitif; salah pakai produk perawatan wajah sedikit saja akibatnya luar biasa. Dokter sendiri pun mengatakan bahwa pemakaian kefir untuk masker wajah masih harus diteliti lebih lanjut sehingga sebaiknya digunakan dengan penuh kehati-hatian. Pengalaman memakai masker kefir ini menjadi hal yang sangat berharga untuk saya.

Kalau kemudian ada orang-orang yang merasa cocok menggunakan masker kefir dan mendapatkan manfaat maksimal darinya, maka saya mengacungkan jempol. Namun, sebuah pelajaran yang sangat berharga harus saya ingat: belum tentu apa yang berhasil untuk orang lain berhasil juga untuk saya -- mengingat kulit wajah saya yang sensitif. Saya harus menerima takdir bahwa tidak semua produk perawatan wajah cocok untuk saya. Saya juga harus menerima bahwa hanya sedikit saja produk yang bisa saya gunakan dan bersabar menggunakannya untuk mendapat hasil yang terbaik.

 

 

Save

Share: