Mengenang Ketika Kecil : Ditinggalkan dan Dikuasai
Pengalaman saya, ketika beranjak remaja saya seringkali ditinggalkan oleh Mama yang sibuk meraih karirnya. Mama aktif di pengajian komplek, menjadi guru TK, memiliki usaha salon, dan lain-lain. Mama pun tidak pernah sepi jadwalnya dari menuntut ilmu baik secara formal maupun non formal, dan membagikan ilmunya di forum-forum. Saya sering merasa kesepian, kurang diperhatikan, dan kurang kasih sayang dari Mama. Setiap kali pulang sekolah, hanya ada pembantu yang menunggui rumah. Rumah terasa sepi dan dingin, tidak ada kehangatan yang semestinya dipancarkan ketika ada seorang ibu di rumah. Ketika Mama tidak sedang pergi pun, Mama lebih banyak istirahat dan saya serta adik-adik tidak boleh mengganggu beliau. Ketika selesai istirahat, Mama segera merapikan diri untuk pergi lagi dan mengisi jadwal berikutnya.
Saya tidak bisa meminta Mama untuk tidak pergi karena Mama akan menjelaskan panjang bahwa kepergiannya adalah untuk hal-hal yang 'baik'. Saat itu saya hanya bisa menerima saja, namun kini setelah dewasa saya berpikir apakah bersama anak di rumah bukan hal yang baik untuk dilakukan?
Pengalaman dengan Papa justru sebaliknya. Meski Papa pun tipe yang selalu bekerja keras untuk meraih pencapaian terbaik di kantornya, Papa masih meluangkan waktu dan perhatian untuk anak-anaknya. Saya seringkali disemangati dengan ucapan 'Kalau orang lain bisa, kenapa kita nggak?' dan karenanya saya banyak melakukan hal-hal yang mungkin saat itu saya tidak suka namun tidak berani menolak. Contohnya adalah mengikuti silat di komplek rumah dan saat di SMA. Saya tipe orang yang gerak refleknya lambat dan resistansi tubuhnya tidak besar. Setiap kali berlari sebelum latihan silat, saya jadi orang yang ada di barisan paling akhir karena kehabisan nafas. Saya pun tidak kuat menghancurkan batako dan benda-benda keras lainnya. Bahkan, ketika uji duel pun saya lebih sering melakukan jurus acak karena lupa dan tidak reflek.
Ketika dewasa kini, saya jadi berpikir bolak-balik kenapa saya harus mengikuti latihan silat yang mungkin sebenarnya bukan keahlian saya? Saya fasih berbahasa Inggris sejak di bangku SMP. Saya senang bermain komputer desain. Mengapa saya tidak melakukan hal-hal yang saya sukai tersebut dan malah berlatih silat? Ok lah Papa ingin supaya saya sehat dan tidak gampang gemuk, tapi bukankah masih banyak olahraga lain yang sesuai dengan karakteristik fisik saya?
Seperti itulah pengalaman yang ingin saya bagikan. Semoga Anda yang memiliki orangtua seperti saya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar